Kaisar Jepang: Jangan Lupakan Luka Perang, Perdamaian Harus Terus Dijaga
Jelang kunjungan ke Belanda dan Belgia, Kaisar Jepang mengingatkan pentingnya belajar dari sejarah perang demi menjaga perdamaian
Ringkasan Berita:
- Kaisar Jepang menegaskan pentingnya mengingat sejarah Perang Dunia II, menghormati para korban, dan terus memperkuat rekonsiliasi dengan Belanda serta Belgia menjelang kunjungan resminya ke Eropa
- Ia menyinggung penderitaan warga Belanda selama masa perang dan pentingnya mempelajari sejarah demi menjaga perdamaian
- Kaisar juga menilai hubungan persahabatan yang terjalin saat ini merupakan hasil upaya rekonsiliasi yang dibangun selama puluhan tahun
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Kaisar Jepang, Naruhito menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya mengingat sejarah Perang Dunia II, menghormati para korban dan terus membangun rekonsiliasi dengan negara-negara yang pernah mengalami konflik dengan Jepang, termasuk Belanda dan Belgia.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan menjelang kunjungan resmi ke Belanda dan Belgia, yang memiliki sejarah panjang hubungan dengan Jepang, termasuk pengalaman pahit selama Perang Dunia II.
Dalam jawabannya, Kaisar menegaskan bahwa meskipun Jepang memiliki hubungan persahabatan yang panjang dengan kedua negara, sejarah kelam masa perang tidak boleh dilupakan.
"Selama perang besar terakhir, banyak nyawa berharga hilang di seluruh dunia dan banyak orang mengalami penderitaan serta kesedihan yang mendalam. Kita tidak boleh melupakan bahwa dalam hubungan Jepang dengan Belanda dan Belgia juga pernah ada masa-masa yang sangat sulit," ujarnya.
Menyinggung Interniran Warga Belanda di Indonesia
Dalam pertanyaan wartawan disebutkan bahwa Jepang dan Belanda pernah menjadi pihak yang bermusuhan selama Perang Dunia II.
Selain itu, Jepang juga memiliki sejarah interniran terhadap warga Belanda yang tinggal di Hindia Belanda (Indonesia saat ini) selama masa pendudukan Jepang.
Baca juga: Hilang Sejak Maret, Jenazah Diduga WNI Peserta Magang Ditemukan di Gunung Karasawa Jepang
Kaisar menyatakan bahwa hingga kini masih ada orang-orang di Belanda yang terus menyimpan luka akibat pengalaman perang tersebut.
"Saya ingin merenungkan fakta bahwa masih ada orang-orang yang terus menanggung rasa sakit dari masa itu," katanya.
Menurut Kaisar, sejarah harus dipelajari dengan rendah hati agar generasi sekarang dan mendatang dapat memahami pentingnya perdamaian.
Kaisar juga mengenang peran besar mendiang Ratu Beatrix dari Belanda dalam memperkuat hubungan kedua negara pascaperang.
Ratu Beatrix melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang pada tahun 1963 dan kembali pada tahun 1991.
Sementara itu, Kaisar Emeritus Akihito dan Permaisuri Emerita Michiko melakukan kunjungan kenegaraan ke Belanda pada tahun 2000.
Kunjungan tersebut menjadi salah satu momen penting dalam proses rekonsiliasi antara kedua negara.
"Saya sangat tersentuh oleh rakyat Belanda yang tetap memikul luka perang. Bersama Ratu Beatrix, upaya dilakukan untuk semakin memperdalam saling pengertian dan kerja sama persahabatan antara rakyat kedua negara," ujarnya.
Menurut Kaisar, hubungan penuh kepercayaan antara Keluarga Kekaisaran Jepang dan Keluarga Kerajaan Belanda pada akhirnya membantu membuka babak baru dalam sejarah hubungan kedua negara.
Rekonsiliasi yang Dibangun Puluhan Tahun
Kaisar menekankan bahwa hubungan baik yang terjalin saat ini tidak terjadi begitu saja, melainkan merupakan hasil dari upaya panjang berbagai pihak.
Pertukaran kota kembar, kerja sama pendidikan antaruniversitas, pertukaran budaya, hingga penanaman pohon sakura menjadi bagian dari proses membangun saling pengertian selama puluhan tahun.
Selain itu, hubungan antarkeluarga kerajaan juga disebut berperan penting dalam memperkuat persahabatan dan niat baik antara Jepang, Belanda, dan Belgia.
"Saya sangat bersyukur bahwa perdamaian dan hubungan baik yang ada saat ini dapat terwujud berkat upaya banyak orang," kata Kaisar.
Baca juga: Anggota Polisi Anti Huru-Hara Jepang Tewas Terjepit Truk Saat Bertugas di Nagano
Pesan Perdamaian untuk Generasi Muda
Menjelang kunjungan ke Eropa tersebut, Kaisar menegaskan bahwa dirinya ingin kembali mengingat nilai perdamaian dan pentingnya belajar dari sejarah.
"Sambil merenungkan sejarah masa lalu, saya ingin sekali lagi mengukir pentingnya perdamaian di dalam hati saya," ujarnya.
Kaisar juga berharap pertukaran antarmasyarakat, khususnya di kalangan generasi muda Jepang, Belanda, dan Belgia, dapat semakin berkembang di masa depan.
Menurutnya, hubungan persahabatan yang dibangun melalui dialog, pendidikan, dan pertukaran budaya merupakan fondasi penting agar tragedi perang tidak terulang kembali.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Keluarga Kekaisaran Jepang tetap menempatkan refleksi sejarah dan perdamaian sebagai bagian penting dari diplomasi kemanusiaan Jepang di tengah hubungan persahabatan yang terus berkembang dengan negara-negara Eropa.
Jadwal Resmi
Menurut jadwal resmi Kaisar Jepang akan mulai berangkat ke Eropa besok 13 Juni 2026.
13 Juni 2026: Berangkat dari Jepang menuju Eropa.
17–19 Juni 2026: Kunjungan kenegaraan resmi di Belanda, termasuk Amsterdam dan Den Haag.
20–25 Juni 2026: Melanjutkan kunjungan ke Belgia. Kunjungan kenegaraan resmi di Belgia berlangsung pada 23–24 Juni.
Kunjungan ini memiliki makna khusus karena Kaisar Naruhito secara terbuka menyatakan ingin mengenang sejarah Perang Dunia II, termasuk penderitaan yang dialami warga Belanda selama pendudukan Jepang, serta memperkuat rekonsiliasi dan persahabatan antara kedua negara.
Belanda dan Jepang memiliki hubungan diplomatik yang telah berlangsung lebih dari 426 tahun, dan kunjungan ini dipandang sebagai simbol penting persahabatan serta rekonsiliasi pascaperang.
Sosok Kaisar Naruhito
Kaisar Naruhito merupakan Kaisar Jepang yang saat ini memimpin Takhta Krisan.
Ia resmi naik takhta pada 1 Mei 2019 setelah ayahnya, Kaisar Akihito, turun takhta, sebuah peristiwa bersejarah yang jarang terjadi dalam tradisi kekaisaran Jepang modern.
Kenaikan takhta Naruhito sekaligus menandai dimulainya era baru dalam sejarah Jepang yang dikenal sebagai Era Reiwa, yang berarti "harmoni yang indah". Era ini menjadi simbol harapan bagi masyarakat Jepang untuk membangun masa depan yang damai dan sejahtera.
Lahir pada 23 Februari 1960, Naruhito merupakan putra sulung Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko.
Ia tercatat sebagai Kaisar Jepang ke-126 dalam garis keturunan Kekaisaran Jepang yang dikenal sebagai salah satu monarki tertua di dunia.
Kaisar Naruhito menikah dengan Permaisuri Masako dan pasangan kekaisaran ini dikenal dekat dengan masyarakat dan kerap menunjukkan perhatian terhadap berbagai isu sosial, termasuk kesejahteraan rakyat serta penanganan bencana alam yang kerap melanda Jepang.
Salah satu hal yang membedakan Naruhito dari para pendahulunya adalah latar belakang pendidikannya.
Ia menjadi Kaisar Jepang pertama yang menempuh pendidikan di luar negeri. Naruhito pernah belajar di Universitas Oxford, Inggris, pengalaman yang diyakini memperluas wawasan internasionalnya serta membentuk pandangannya mengenai hubungan antarbangsa.
Sejak menjadi putra mahkota hingga naik takhta, Naruhito dikenal memiliki perhatian besar terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Ia juga sering menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya air, isu yang telah lama menjadi fokus ketertarikannya.
Dalam menjalankan tugas kenegaraan, Kaisar Naruhito berperan sebagai simbol negara dan persatuan rakyat Jepang sesuai Konstitusi Jepang.
Meski tidak memiliki kekuasaan politik, kehadirannya memiliki arti penting dalam menjaga tradisi, identitas nasional, dan semangat kebersamaan masyarakat Jepang.
Terkait suksesi kekaisaran, Naruhito dan Permaisuri Masako memiliki seorang putri, Putri Aiko.
Karena aturan kekaisaran Jepang saat ini hanya mengizinkan laki-laki mewarisi takhta, pewaris pertama dalam garis suksesi adalah adik laki-laki Kaisar Naruhito, yaitu Putra Mahkota Fumihito (Pangeran Akishino).
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/jepang11122222.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.