Iran Vs Amerika Memanas
Iran Bantah Kesepakatan Sudah Dekat: Pendirian AS Berubah-ubah
Iran membantah klaim Trump bahwa kesepakatan AS-Iran sudah dekat. Ia mengatakan pendirian AS berubah-ubah mengenai nota kesepahaman.
Konflik bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran menyusul gagalnya perundingan terkait program nuklir Teheran di Jenewa. Washington dan Tel Aviv menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sedangkan Teheran bersikeras bahwa program tersebut hanya ditujukan untuk kebutuhan energi dan penelitian sipil.
Situasi semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia pada tahap awal konflik. Sejumlah laporan menyebut kepemimpinan kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai balasan atas serangan yang diterimanya, Iran melancarkan serangan ke sejumlah target di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
Setelah hampir 40 hari pertempuran berlangsung, ketegangan mulai mereda usai Pakistan memediasi tercapainya gencatan senjata sementara.
Meski demikian, sejumlah isu krusial masih menjadi bahan pembahasan dalam perundingan, mulai dari program pengayaan uranium Iran, keamanan pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Untuk menjaga jalur diplomasi tetap berjalan, Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, kembali mengunjungi Teheran. Selain Pakistan, Oman dan Qatar juga berperan sebagai mediator dalam komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Di tengah upaya diplomatik tersebut, Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa pemerintahannya masih mengutamakan penyelesaian melalui jalur perundingan. Namun, Trump juga mengingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka apabila negosiasi tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.
Meski sempat mereda, ketegangan kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang. Eskalasi terbaru dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz pada 9 Juni 2026.
Amerika Serikat menyebut serangan yang dilancarkannya sebagai respons atas dugaan provokasi Iran. Komando AS CENTCOM menyatakan operasi militer tersebut dilakukan atas perintah langsung Panglima Tertinggi sebagai tanggapan atas insiden jatuhnya helikopter Apache sehari sebelumnya.
Sebelumnya, Trump berulang kali menyatakan optimisme bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik. Namun hingga saat ini, belum ada kesepakatan resmi yang berhasil dicapai dalam proses perundingan antara kedua negara.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/JUBIR-KEMENLU-IRAN-Juru-bicara-Kementerian-Luar-Negeri-Iran-Esmail-Baghaei.jpg)