Iran Vs Amerika Memanas
Trump Sesumbar Damai Iran-AS Tuntas Minggu Ini, Teheran Justru Beri Sinyal Ragu
Trump sesumbar damai Iran-AS diteken Minggu ini. Namun Teheran masih ragu karena isu nuklir dan sanksi ekonomi belum sepenuhnya tuntas.
Selain pembukaan Selat Hormuz, kesepakatan damai juga disebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.
Masa gencatan senjata ini akan dimanfaatkan sebagai periode transisi bagi kedua negara untuk melanjutkan pembahasan teknis dan membangun kepercayaan politik yang selama ini memburuk akibat konflik berkepanjangan.
Dalam masa transisi tersebut, fokus pembicaraan akan diarahkan pada pengaturan keamanan kawasan Teluk Persia, pengawasan aktivitas militer, hingga pembahasan rinci mengenai program nuklir Iran.
Isu nuklir memang menjadi poin paling sensitif dalam negosiasi damai AS-Iran. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan Iran tidak boleh memiliki ataupun mengembangkan senjata nuklir.
Karena itu, salah satu isi kesepakatan disebut menyangkut pengawasan terhadap stok uranium Iran yang telah diperkaya.
Trump mengklaim Amerika Serikat siap mengambil alih dan menghancurkan uranium yang dianggap memiliki potensi digunakan untuk pengembangan senjata nuklir.
Namun hingga kini belum ada kejelasan mengenai mekanisme pengawasan, lokasi penyimpanan uranium, maupun pihak internasional yang akan terlibat dalam proses tersebut.
Di sisi lain, Iran juga disebut meminta adanya pelonggaran tekanan ekonomi dari Amerika Serikat. Sebagai bagian dari kesepakatan awal, Washington dikabarkan akan mulai melonggarkan blokade laut terhadap Iran serta membuka peluang pengurangan sanksi ekonomi secara bertahap.
Teheran berharap langkah tersebut dapat membantu memulihkan kondisi ekonomi dalam negeri yang selama bertahun-tahun terdampak embargo dan pembatasan perdagangan internasional.
Iran Masih Ragu, Sebut Negosiasi Belum Final
Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump optimistis kesepakatan damai dengan Iran dapat rampung dalam pekan ini, pemerintah Iran justru masih menunjukkan sikap hati-hati dan belum sepenuhnya yakin proses negosiasi telah mencapai tahap final.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan pembicaraan antara Teheran dan Washington memang mengalami kemajuan signifikan, namun masih terdapat sejumlah detail penting yang belum sepenuhnya disepakati kedua pihak.
Dalam keterangannya kepada media pemerintah Iran, Baghaei menegaskan bahwa penandatanganan resmi kemungkinan belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.
“Itu tidak akan terjadi besok,” ujar Baghaei.
Kendari demikian, ia tidak menutup kemungkinan kesepakatan damai dapat tercapai dalam beberapa hari mendatang apabila seluruh pembahasan berjalan lancar.
Keraguan Iran terutama muncul karena masih adanya sejumlah poin sensitif dalam rancangan perjanjian, khususnya terkait program nuklir Iran dan sanksi ekonomi yang selama bertahun-tahun membebani perekonomian negara tersebut.