Iran Vs Amerika Memanas
Netanyahu Beda Jalan dengan Trump, Israel Tak Peduli Kesepakatan AS-Iran
Netanyahu tidak sejalan dengan Trump mengenai kesepakatan AS-Iran dan periode negosiasi 60 hari, sebut militer Israel tetap berada di Lebanon.
Ringkasan Berita:
- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui tidak selalu sepakat dengan Presiden AS Donald Trump dan menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon, Gaza, dan Suriah demi keamanan negaranya.
- Netanyahu juga menegaskan Israel akan terus mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, baik ada kesepakatan maupun tidak.
- Trump mengumumkan AS dan Iran telah menyepakati nota kesepahaman untuk mengakhiri perang dan melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan final dalam dua bulan.
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan ia terkadang tidak setuju dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Ia menegaskan tentara Israel akan tetap berada di "zona penyangga keamanan" di Lebanon dengan alasan mengawasi Hizbullah, kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Ini adalah komentar pertamanya setelah pengumuman kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
"Trump dan saya adalah mitra yang sepakat dalam banyak hal dan tidak sepakat dalam beberapa hal," kata Netanyahu dalam konferensi pers yang disiarkan televisi, Senin (15/6/2026).
"Kami telah menciptakan zona penyangga keamanan di Lebanon dan kami akan tetap berada di dalamnya, dan Amerika menghormati keputusan kami dalam hal ini," lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa tentara Israel akan tetap berada di "zona penyangga" di Gaza dan Suriah selama diperlukan.
"Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menghancurkan poros kejahatan Iran," katanya merujuk pada penghapusan ancaman Iran dari Israel, lapor Al Arabiya.
“Dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir — tidak hari ini dan tidak besok. Selama saya menjabat sebagai perdana menteri Israel, itu tidak akan terjadi,” tegasnya, seraya menegaskan bahwa ini adalah misi hidupnya.
Perdana Menteri Israel, yang mengklaim dipaksa Trump untuk menghentikan serangannya di Lebanon, memuji serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.
“Kami melancarkan operasi serangan terbesar dalam sejarah Israel,” Netanyahu membual, sambil menyebutkan apa yang menurutnya merupakan pencapaian Israel.
Baca juga: Iran Rupanya Sempat Siapkan Serangan ke Israel dan Tunda Kesepakatan dengan AS
Netanyahu mengatakan serangan tersebut menargetkan ilmuewan Iran dan fasilitas nuklir Iran.
“Kami menyerang industri dan infrastruktur militer yang tak terhitung jumlahnya. Kami menghancurkan angkatan laut dan angkatan udara mereka," kata Netanyahu.
"Kami menyebabkan kerusakan yang sangat besar," lanjutnya, menegaskan serangan itu telah menekan perekonomian Iran.
Pernyataan Netanyahu mengulangi pidato tahun lalu setelah berakhirnya perang 12 hari yang diawali oleh serangan Israel terhadap Iran, lapor Times of Israel.
Trump Umumkan Kesepakatan AS-Iran soal Nota Kesepahaman
Sebelumna Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/N3T4NY4HU-345345ew4e.jpg)