Wabah Ebola
CDC Afrika Peringatkan Wabah Ebola di Kongo Bisa Jadi yang Paling Mematikan dalam Sejarah
Wabah Ebola di Kongo kian mengkhawatirkan. CDC Africa memperingatkan krisis ini bisa menjadi yang terburuk dalam sejarah.
Ringkasan Berita:
- Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo terus memburuk dengan lebih dari 830 kasus dan hampir 200 kematian.
- CDC Afrika memperingatkan krisis ini berpotensi melampaui wabah Ebola terbesar sebelumnya jika respons darurat dan pendanaan tidak segera diperkuat.
- Kekurangan tenaga, fasilitas, dan penolakan masyarakat menjadi tantangan utama.
TRIBUNNEWS.COM - Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) berpotensi menjadi yang terburuk dalam sejarah jika tidak segera dikendalikan.
Peringatan itu disampaikan Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika), Jean Kaseya, saat pertemuan virtual yang mempertemukan para kepala negara Afrika dan donor internasional pada Selasa (16/6/2026).
Menurut data pemerintah Kongo, lebih dari 830 kasus Ebola strain Bundibugyo telah terkonfirmasi.
Sebanyak 196 orang di antaranya meninggal dunia.
Virus tersebut terus menyebar di tiga provinsi dan menimbulkan kekhawatiran besar karena hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang terbukti efektif untuk jenis Bundibugyo.
Dilansir CNN, strain langka ini dapat menular melalui cairan tubuh, bahkan setelah penderita meninggal dunia, sehingga meningkatkan risiko penyebaran di masyarakat.
CDC Afrika Bandingkan dengan Wabah Ebola Terbesar
Jean Kaseya memperingatkan bahwa situasi saat ini dapat melampaui dua wabah Ebola terbesar yang pernah melanda benua Afrika.
“Jika kita tidak segera menghentikan wabah ini, situasinya akan lebih buruk daripada yang terjadi di Afrika Barat dan Kongo timur,” katanya.
Pernyataan tersebut merujuk pada wabah Ebola 2014–2016 di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone yang menewaskan lebih dari 11.000 orang, Al Jazeera melaporkan.
Baca juga: Bagaimana Ebola Berdampak pada Piala Dunia?
Ia juga mengacu pada wabah Ebola besar di wilayah timur Kongo pada 2018 yang sempat menjadi perhatian dunia.
Menurut Kaseya, jendela waktu untuk mengendalikan wabah saat ini semakin sempit.
Jika langkah cepat tidak dilakukan, biaya penanganan akan melonjak drastis.
Dana Darurat Masih Jauh dari Target
Uni Afrika sebelumnya meluncurkan rencana penggalangan dana sebesar 518 juta dolar AS untuk enam bulan ke depan.
Namun, hingga kini dana yang terkumpul masih jauh dari kebutuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/g-pasien-penyakit-Ebola-di-Uganda-tahun-2000.jpg)