Sabtu, 11 April 2026

Restrukturisasi Industri Unggas Harus Mulai dari Kandang

Konsumsi ayam secara nasional mencapai 7 kilogram per kapita per tahun.

Editor: Budi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Bulan Februari 2007 lalu , Pemerintah Kabupaten Subang mulai terganggu dengan wabah flu burung. Dinas Peternakan setempat menyatakan bahwa Subang berada dalam bahaya flu burung karena terdapat 17 ribu unggas mati secara mendadak.

Wilayah di mana unggas mati terjadi di 12 kecamatan di Subang. Dampak dari wabah ini dalam kehidupan sosial dan ekonomi suatu masyarakat dapat meluas menjadi panik, kekacauan, dan sektor lain secara nasional pun terganggu; seperti pariwisata, dan ekonomi sosial.

Seorang pengusaha Asep Sulaiman Subanda, misalnya, mengklaim
kerugian sebesar Rp 2,5 miliar. Berdasarkan catatan Dinas Peternakan Subang, ekspor unggas di Subang mengalami kenaikan di tahun 2005. Mereka mengekspor unggas ke Bangladesh, Malaysia, Turki dan
Thailand. Selain itu, Subang terdaftar sebagai daerah yang menyumbang 10 persen dari industri unggas nasional dan 50 persen di seluruh Jawa Barat.

Saat itu, kemampuan kabupaten di bagian utara Jawa Barat telah memproduksi unggas sebanyak 1,3 juta ayam, dan 1,2 juta jenis unggas lain.

Kematian ayam ini mengganggu tingkat konsumsi. Konsumsi ayam
secara nasional mencapai 7 kilogram per kapita per tahun. Permintaan yang tinggi untuk daging ayam dapat dilihat selama musim liburan atau perayaan keagamaan.

Sebagai contoh pada bulan Agustus 2011 menjelang perayaan Idul Fitri, kebutuhan untuk daging ayam sebesar 244.710 ton. Pada bulan yang sama tahun lalu, Pusat Informasi Pasar Unggas (PINSAR) mencatat bahwa konsumsi daging ayam hanya sekitar 150 ribu ton per bulan.

"Artinya, ada peningkatan 170 persen" kata Hartono, Ketua PINSAR. Data menunjukkan bahwa unggas merupakan bisnis yang menguntungkan. Tapi bagaimana bisnis ini bisa bertahan dari berbagai ancaman penyakit seperti flu burung?

Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan perusahaan dari Jepang Shigeta Animal Pharmaceutical mengembangkan vaksin H5N1 dengan
menggunakan Reverse Genetic Technology. Mereka membuat vaksi pembasmi virus H5N yang sangat patogen (sangat ganas) menjadi patogen (mematikan).

Menurut Peneliti IPB, Kamaluddin Zarkasie, DVM, PhD. upaya itu hanya bentuk baru dari pengembangan vaksin untuk mengontrol karena virus selalu bermutasi.

"Salah satu faktor mutasi adalah faktor perubahan lingkungan
itu sendiri," kata peneliti yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PT Industri SHIGETA Vaksin Hewan IPB.

Kamaluddin menyarankan untuk melakukan tindakan bio-sekuriti.

Langkah ini adalah cara untuk membatasi perkembangan virus flu burung. Masalah bio-sekuriti telah ada sejak wabah flu burung terjadi di Indonesia. "Fokus dari penanganan kasus ini adalah bagaimana
mengontrolnya. Sebagai contoh, menetapkan standar bio-sekuriti
di industri unggas," katanya.

Bio-sekuriti di peternakan unggas digambarkan sebagai manajemen
peternakan untuk mencegah organisme patogen (pembawa penyakit) menyebar ke lokasi peternak.

Manajemen pertanian berisi tiga langkah penting: isolasi,
kontrol lalu lintas di dalam peternakan dan sanitasi. Tindakan ini diperlukan agar unggas tetap sehat dalam kandang.

Isolasi dilakukan pada unggas yang terinfeksi. Bahkan, jika
perlu, isolasi dapat dilakukan ke seluruh peternakan ketika menemukan keberadaan kematian unggas secara mendadak. Isolasi juga dilakukan pada akses hewan liar seperti burung-burung liar. Pemeliharaan
unggas di wilayah terbuka agar tidak berinteraksi dengan burung
liar banyak diterapkan di negara-negara maju seperti Austria, Kanada, Perancis, Jerman, Belanda, Norwegia dan Swedia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved