Sabtu, 6 Juni 2026

Mengapa Pengidap HIV/AIDS Harus Dihargai?

Saat ini virus HIV/AIDS sudah menyerang berbagai lapisan masyarakat, tidak hanya PSK, ibu rumah tangga, petugas medis tapi juga para tentara

Tayang:
Penulis: Iswidodo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Saat ini virus HIV/AIDS sudah menyerang berbagai lapisan masyarakat Indonesia, tidak hanya PSK, ibu rumah tangga, petugas medis  tapi juga para tentara. Mereka tertular dengan berbagai cara. Apakah mereka harus diusir atau dikucilkan? Lantas bagaimana masyarakat harus menyikapi mereka dan mengapa harus dihargai?

Merebaknya HIV/AIDS yang menyerang sistem kekebalan tubuh setidaknya memunculkan dua persoalan utama. Yaitu ancaman terhadap kebahagiaan hidup manusia dan jiwa manusia. Kedua, bagaimana memperlakukan penderita HIV/AIDS (ODHA).

Persoalan pertama sangat krusial untuk ditangani karena menyangkut hak asasi manusia yaitu hak untuk hidup dengan layak dan aman. Jika dunia ini sudah tidak aman bagi manusia, tentu makna hidup tidak akan ada lagi gunanya bagi manusia. Padahal manusia hidup di dunia untuk menikmati karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Lantas bagaimana memperlakukan ODHA itu? Mereka para pengidap HIV/AIDS adalah manusia juga yang mempunya rasa dan keinginan sebagaimana manusia pada umumnya. Mereka juga ingin hidup bermasyarakat, berkomunikasi, bergaul, dihargai, dihormati. Tentu ketika keinginannya sebagai manusia tidak terpenuhi gara-gara ODHA maka hidupnya makin menderita dan ditambahlagi penderitaan sosial.

Masyarakat menjauh karena takut tertular, menghindari mereka, dan menganggap pengidap HIV/AIDS adalah hina. Bahkan sebagian menilai, penyakit HIV/AIDS adalah kutukan. Padahal banyak penderita HIV/AIDS berasal dari orang orang tak berdosa, seperti yang tertular melalui persalinan, hubungan seks yang sah dengan suami atau istrinya yang sudah tertular, tanpa sengaja.

Agama berprinsip bahwa, wajib hukumnya melindungi hak hidup manusia. Berarti tidak membiarkan kehidupan manusia terancam oleh apapun, siapapun termasuk oleh penyakit yang mengancam. Tujuannya adalah agar manusia bisa melaksanakan ibadah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan baik, aman, nyaman dan bisa menikmati kebahagiaan hidup.

Penularan HIV/AIDS melalui virus HIV melalui cairan tubuh termasuk darah, cairan sperma, cairan vagina atau air susu ibu (ASI).  Jika kesehatan bisa membawa manusia kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat maka sudah sepantasnya manusia wajib menanggulangi agar penyakit HIV/AIDS menyebar lebih luas lagi. Penyakit HIV/AIDS tidak hanya mengancam pekerja seks atau yang bersinggungan kepada mereka, tetapi juga mengancam anak-anak atau bayi yang tak berdosa.

Bukankah Islam juga menganjurkan untuk menjenguk orang yang sakit dan memberikan hiburan kepada mereka yang sedang sakit. Bahkan dalam kacamata Islam, "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS Alhujurat : 13).

Dengan demikian, tidak boleh mengucilkan penderita  HIV/AIDS tetapi juga harus berhati-hati bergaul dengan mereka. Demikian juga sebaliknya, para penderita  HIV/AIDS harus menyadari bahwa penyakitnya mudah menular sehingga tidak boleh melakukan aktivitas yang bisa menulari orang lain. Mereka juga harus menghindari hubungan seks berganti pasangan, penggunaan jarum suntik bersama, menyusui dan sebagainya. (berbagai sumber)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved