Hentikan Jajan, Lebih Baik Bawakan Anak Bekal
Demi mencegah anak jajan di sekolah, lebih baik bawakan anak bekal dari rumah. Selain lebih sehat juga aman
Wakil Presiden Boediono pada 31 Januari 2011 mencanangkan Gerakan Menuju Pangan Jajanan Sehat Anak Sekolah yang bertujuan melindungi generasi bangsa dari pengaruh bahan makanan yang sehat.
Menurut Boediono masalah jajanan anak sekolah tampaknya hanya masalah kecil, namun dampaknya besar terhadap kelangsungan bangsa yang lebih baik di masa depan jika tidak diatasi sejak dini.
Pernyataan Wakil Presiden itu segera disikapi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
BPOM di seluruh Tanah Air segera melakukan razia aneka jajanan di sekolah-sekolah yang dicurigai menjual makanan mengandung zat tambahan berbahaya.
Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Kota Palu, Sulawesi Tengah, Jhony Dera, berjanji melakukan razia jajanan sekolah dalam waktu dekat ini untuk mengecek kesehatanan jajanan tersebut.
Razia itu berupa pengambilan sejumlah contoh jajanan kemudian akan diteliti di laboratorium apakah mengandung zat tambahan yang berbahaya.
Razia jajanan di sekolah dasar itu juga akan dilakukan bersama Dinas Kesehatan setempat.
Pantauan di sejumlah sekolah menyebutkan, sejumlah pedagang dengan setia menunggu siswa sekolah dasar di saat istirahat atau seusai jam belajarnya.
Para pedagang itu menawarkan aneka jajanan yang dijual itu umumnya dikemas secara menarik dengan warna-warna mencolok dan dijual dengan harga relatif murah, rata-rata Rp1.000 per jenis.
Warna-warna mencolok yang biasanya hijau, kuning dan merah itu diduga mengandung rhodamin B, methanil yellow dan amaranth yang bisa merusak ginjal dan hati jika dikonsumsi secara terus menerus serta memicu timbulnya kanker.
Demi mengeruk keuntungan yang melimpah, para pedagang itu terpaksa mencampurkan bahan penambah makanan yang sudah dilarang.
Menurut Jhony, dibutuhkan juga kesadaran para pedagang jajanan untuk menjual produknya secara sehat, yakni tidak memakai zat tambahan makanan berbahaya.
Pedagang itu mungkin juga memiliki anak yang masih duduk di sekolah dasar, jadi diperlukan kesadaran, katanya.
Lebih lanjut, Jhony Dera mengatakan pihaknya juga telah mengingatkan para orang tua murid agar memperhatikan jenis jajanan yang dibeli anaknya di sekolah.
"Jangan sampai terkena penyakit di kemudian hari karena terlalu banyak mengonsumsi jajanan yang tidak sehat," katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, Emma Sukmawati, juga akan mendukung langkah Balai POM untuk merazia jajanan sekolah.
Dia mengatakan peran aktif guru di sekolah dalam memberikan informasi tentang jajanan sekolah yang dianggap berbahaya kepada anak didiknya juga penting.
"Berikan saja pemahaman sederhana, yang penting mudah dipahami oleh murid," katanya.
Sementara sejumlah orang tua murid mengaku khawatir dengan maraknya aneka jajanan berbahaya itu.
Lidiawati, salah seorang orang tua murid di Kota Palu mengaku sudah membekali anaknya dengan makanan dari rumah ketika hendak pergi ke sekolah.
Tujuannya adalah menghindari anaknya membeli makanan sembarangan meski telah diberi uang jajan.
"Kebetulan anak saya gemar makan apa saja sehingga perlu diwaspadai," katanya.
Bekal makanan yang diberikan kepada anaknya yang baru kelas I sekolah dasar itu berupa roti tawar berisi butiran coklat atau kue.
Terkadang, Lidiawati juga membuatkan mi goreng dengan sebotol susu coklat kegemaran anaknya.
Sementara, Mama Lia harus rela menunggui putrinya selama sekolah hingga pukul 10.30 WITA.
Dia mengaku mengawasi jajanan apa yang dibeli anaknya selama di sekolah. Jajanan rumah pun harus dibuat agar anaknya mengurangi jajan di sekolah.
"Jadi, jajanan sekolah harus dilawan dengan jajanan rumah agar anak kita terjamin kesehatannya," katanya.