Sabtu, 25 April 2026

Takut ‘Cuci Darah’ Bikin Pasien Menunda Berobat, Dokter Klarifikasi Hemodialisis

Takut “cuci darah” bikin pasien menunda berobat. Dokter jelaskan hemodialisis dan risiko penundaan terapi ginjal.

dok Tribun Jogja
HEMODIALISIS — Pasien menjalani proses hemodialisis di rumah sakit dengan mesin penyaring darah untuk menggantikan fungsi ginjal yang menurun. Dokter mendampingi dan menjelaskan prosedur medis ini, yang sering disalahpahami masyarakat sebagai “cuci darah.” 

Ringkasan Berita:
  • Banyak pasien ginjal menunda berobat karena takut istilah “cuci darah”.
  • Dokter klarifikasi istilah medis yang benar adalah hemodialisis, bukan “cuci darah”.
  • Penundaan terapi justru memperparah kondisi ginjal hingga gagal ginjal.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Istilah “cuci darah” masih sering membuat banyak orang takut saat mendengar penyakit ginjal.

Tak sedikit yang langsung merasa kondisi sudah sangat parah, bahkan memilih menunda pengobatan karena takut menjalani prosedur tersebut.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal hipertensi, Prof. dr. Aida Lydia, Ph.D, Sp.PD, Subsp. G.H (K), istilah “cuci darah” sendiri sudah kurang tepat.

“Perlu dipahami bahwa istilah ‘cuci darah’ yang umum digunakan di masyarakat sebenarnya kurang tepat dan kerap menimbulkan persepsi yang keliru. Istilah medis yang benar adalah hemodialisis (HD), yaitu prosedur untuk membantu menyaring limbah dan cairan berlebih dari dalam tubuh,” jelas dr. Aida pada keterangannya, Kamis (23/4/2026).

Kesalahpahaman ini bukan hal sepele. Banyak pasien akhirnya menunda pengobatan karena takut, padahal kondisi ginjalnya sudah membutuhkan penanganan.

“Penyakit ginjal kronis (PGK) adalah gangguan pada ginjal yang berlangsung dalam jangka panjang dan menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara bertahap. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal,” sambungnya.

Penundaan ini justru bisa memperparah kerusakan ginjal.

Padahal, terapi seperti hemodialisis bertujuan membantu tubuh tetap berfungsi ketika ginjal tidak lagi bekerja optimal.

Pada tahap lanjut, penyakit ginjal kronis bisa berkembang menjadi gagal ginjal atau stadium akhir.

Di kondisi ini, ginjal tidak mampu lagi menyaring darah, membuang limbah, maupun menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.

Akibatnya, limbah metabolisme dan cairan menumpuk dalam tubuh.

“Pada tahap ini, ginjal tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara optimal, seperti menyaring darah, membuang limbah metabolisme, serta menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, dan keasaman darah,” imbuhnya.

Kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi serius.

Baca juga: Bukan Cuma Perempuan, Ini Alasan Laki-laki Juga Perlu Vaksin HPV

Selain hemodialisis, ada juga pilihan terapi lain seperti dialisis peritoneal dan transplantasi ginjal. Semua bertujuan menggantikan fungsi ginjal yang sudah menurun.

Yang perlu dipahami, terapi ini bukan akhir dari segalanya. Sebaliknya, menjadi upaya untuk mempertahankan kualitas hidup.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved