Metode Baru di Indonesia, Gangguan Pembuluh Darah Laba-laba Bisa Ditangani Tanpa Operasi
Dalam dunia kedokteran modern, penanganan berbagai kondisi medis, termasuk gangguan pembuluh darah, semakin mengarah pada prosedur minimal invasif.
Ringkasan Berita:
- Spider veins atau pembuluh darah halus di kulit kini dapat ditangani tanpa operasi melalui metode CLaCS yang menggabungkan laser dan skleroterapi dengan sistem pendingin
- Teknologi ini bersifat minimal invasif, tanpa rawat inap, dan memungkinkan pemulihan lebih cepat
- Pendekatan ini menjadi alternatif modern dalam penanganan gangguan pembuluh darah di Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bagi sebagian orang, garis-garis pembuluh darah halus berwarna kebiruan atau kemerahan di permukaan kulit bukan sekadar persoalan estetika.
Kondisi yang dikenal sebagai spider veins atau dalam istilah medis disebut telangiektasia ini kerap menjadi perhatian karena tampilan visualnya, meski umumnya tidak berbahaya secara klinis.
Baca juga: Mengenal Digital Subtraction Angiography, Teknologi untuk Melihat Jalur Macet di Pembuluh Darah Otak
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan penanganannya terus berkembang seiring kemajuan teknologi medis.
Salah satu metode yang mulai diperkenalkan di Indonesia adalah Cryo Laser & Cryo Sclerotherapy (CLaCS), yakni teknik yang menggabungkan laser dan injeksi skleroterapi dengan sistem pendingin untuk meningkatkan kenyamanan pasien.
Metode ini diperkenalkan oleh Klinik Indonesia Vein Center sebagai bagian dari layanan penanganan gangguan pembuluh darah vena dengan pendekatan minimal invasif.
Menggabungkan Dua Teknik
Secara teknis, CLaCS mengombinasikan dua pendekatan utama. Pertama adalah laser transdermal yang diarahkan dari permukaan kulit untuk menargetkan pembuluh darah kecil tanpa sayatan.
Kedua adalah cryosclerotherapy, yaitu penyuntikan cairan sklerosan untuk menutup pembuluh darah yang bermasalah.
Perbedaan utama metode ini dibanding pendekatan konvensional terletak pada penggunaan sistem pendingin (cryo) selama prosedur, yang bertujuan mengurangi rasa tidak nyaman sekaligus melindungi jaringan kulit di sekitarnya.
Founder sekaligus dokter spesialis di klinik tersebut, dr Yuliardy Limengka, B.Med.Sc., Sp.B, Subsp. BVE(K), menjelaskan bahwa kombinasi teknologi ini dirancang untuk meningkatkan presisi sekaligus kenyamanan tindakan.
“Laser diarahkan ke pembuluh darah dari permukaan kulit tanpa sayatan, kemudian dilanjutkan dengan penyuntikan sklerosan untuk menutup pembuluh darah yang ditargetkan, dengan bantuan pendinginan agar pasien lebih nyaman,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Tren Minim Invasif
Dalam dunia kedokteran modern, penanganan berbagai kondisi medis, termasuk gangguan pembuluh darah, kini semakin mengarah pada prosedur minimal invasif.
Artinya, tindakan dilakukan tanpa pembedahan terbuka dengan waktu pemulihan yang lebih singkat.
CLaCS menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut. Pasien umumnya dapat kembali beraktivitas setelah tindakan, meski hasil akhir terlihat bertahap.
Spider veins merupakan kondisi pelebaran pembuluh darah kecil di bawah kulit. Meski tidak selalu menimbulkan gangguan serius, kondisi ini dapat mengganggu penampilan pada sebagian orang.
Perkembangan teknologi seperti CLaCS menempatkan penanganan kondisi ini di persimpangan antara kebutuhan medis dan estetika—antara fungsi kesehatan dan hasil visual.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Spider-veins-1-22042026.jpg)