Persiapkan Anak yang Unggul dari 200 Hari Sebelum Pernikahan

Persiapan yang dilakukan adalah dengan menyiapkan kondisi fisik yang baik sehingga bisa menghasilkan sel telur yang terbaik

Persiapkan Anak yang Unggul dari 200 Hari Sebelum Pernikahan
Tribunnews.com/Apfia Tioconny Billy
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo di acara Wisuda Angkatan Kedua Akademi Keluarga Hebat Indonesia Tahun 2019 di Kantor Pusat BKKBN, di Jakarta Timur, Kamis (11/12/2019) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul tidak hanya sejak anak lahir di dunia atau pada 1.000 hari pertama kehidupan tapi juga dari pra kehidupan.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebutkan sebaiknya disiapkan sejak 200 hari sebelumnya atau mulai dari  sebelum pernikahan.

Baca: Kulit Anda Sensitif? Hindari Produk Perawaran Wajah yang Berbentuk Gel

Persiapan yang dilakukan adalah dengan menyiapkan kondisi fisik yang baik sehingga bisa menghasilkan sel telur yang terbaik.

“Ya jangan harap ciptakan generasi unggul kalau berasal dari sel telur yang suaminya perokok berat misalnya. Siapkan dari 200 hari sebelum konsepsi, kata Hasto di acara Wisuda Angkatan Kedua Akademi Keluarga Hebat Indonesia Tahun 2019 di Kantor Pusat BKKBN, di Jakarta Timur, Kamis (11/12/2019).

Hasto menyarankan untuk pasangan yang ingin program memiliki anak mulailah dengan gaya hidup yang sehat termasuk memperhatikan asupan yang dikonsumsi. 

Beberapa nutrisi yang disarankan diantaranya asam solfat dan zinc, dan bisa juga tambah stamina tubuh dengan mengonsumsi multivitamin.

“Kalau sebelum berhubungan seks konsumsi asam solfat, konsumsi asupan yang ada zat zinc-nya jadi keluar sel telur yang ungguk nanti,” ungkap Hasto.

Maka dari itu dengan adanya sertifikasi yang sedang direncanakan oleh pemerintah diharapkan pihak BKKBN dapat segera terealisasi agar pasangan yang akan menikah bisa teredukasi dengan baik.

“‘Maka adanya sertifikat pranikah saya setuju banget nanti kita masukin edukasi disitu, karena mengatasi anemia kan sebelum hamil kalau sesudah hamil nanti telat,” papar Hasto.

Baca: Penggunaan Produk Wajah Bikin Wajah Mengelupas, Wajarkah?

Kalau memiliki anak dipersiapkan dengan matang maka permasalahan seperti anak lahir cacat atau tumbuh stunting diharapkan bisa teratasi.

Pasalnya berdasarkan data pemantauan status gizi Kementerian Kesehatan tahun 2018, prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5 persen menjadi 29,6 persen pada tahun 2017.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved