Selasa, 2 Juni 2026

Makan Jeroan Tanpa Meningkatkan Kolesterol dan Risiko Hipertensi, Cara Masak Mesti Diperhatikan

Sebelum konsumsi jeroan, penting untuk memahami cara mengolah, frekuensi konsumsi, dan siapa saja yang perlu lebih berhati-hati.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com/Fauzi Nur Alamsyah
IDUL ADHA - Pedangdut Dewi Perssik turut terlibat langsung dalam proses pemotongan daging hewan kurban di kediamannya kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (28/5/2026).(Tribunnews.com/Fauzi Alamsyah). 

Ringkasan Berita:
  • Banyak yang suka makan jeroan, namun sebagian khawatir meningkatkan risiko hipertensi dan meningkatkan kolesterol hingga memicu asam urat
  • Jeroan sebenarnya tidak harus dihindari sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memahami cara mengolah, frekuensi konsumsi, dan siapa saja yang perlu lebih berhati-hati
  • Selain cara mengolah, frekuensi konsumsi juga menjadi faktor penting. Jeroan tidak dianjurkan menjadi menu harian

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Jeroan sulit dipisahkan dari kebiasaan makan masyarakat Indonesia. Mulai dari sate usus di bubur ayam pagi hari, gulai ati saat acara keluarga, hingga paru goreng dan kikil yang jadi lauk favorit.

Namun, di balik rasanya yang gurih, banyak orang mulai khawatir, apakah masih aman makan jeroan tanpa meningkatkan kolesterol dan risiko hipertensi?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Nusa Purnawan Putra, Sp.PD mengatakan, jeroan sebenarnya tidak harus dihindari sepenuhnya. 

Yang lebih penting adalah memahami cara mengolah, frekuensi konsumsi, dan siapa saja yang perlu lebih berhati-hati.

Baca juga: Usai Makan Jeroan Terbitlah Tengkuk Terasa Berat? Dokter Ungkap Fakta soal Hipertensi

“Makanya kita harus bijak dalam memilih makanan, mengkonsumsinya, frekuensinya, dan mengolahinnya,” ujar dr Nusa pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan pada akun Kementerian Kesehatan, Jumat (29/5/2026). 

Bukan Jeroannya Saja, Cara Masaknya Juga Menentukan

Menurut dr Nusa, banyak masyarakat fokus pada jenis jeroan yang dimakan, tetapi lupa memperhatikan cara memasaknya.

Padahal, pengolahan yang kurang tepat justru dapat meningkatkan risiko.

“Kalau kita ngolahnya, ngolah yang berisiko untuk meningkatkan kolesterol, juga nggak baik. Misalnya kita mendapatkan jeroannya hati. Kita olahnya dalam bentuk apa nih? Direbus, apa dibuat santan? Atau misalnya dalam bentuk bakaran segala macam,” jelasnya.

Ia menyebut metode merebus lebih dianjurkan dibanding pengolahan yang menggunakan banyak santan atau minyak.

“Direbus mungkin lebih baik, kandungannya lebih rendah daripada diolah dalam santan yang berisiko untuk kolesterolnya jadi lebih tinggi lagi,” katanya.

Artinya, cara memasak seperti gulai bersantan pekat, gorengan berulang kali, atau jeroan dengan minyak berlebih sebaiknya mulai dikurangi.

Jeroan sendiri mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi pada beberapa jenis organ tertentu.

“Pada beberapa organ, terutama hati, terus ginjal, apalagi otak, itu kandungan lemaknya cukup tinggi,” ujar dr Nusa.

Lemak tersebut berpotensi meningkatkan trigliserida dan LDL atau yang dikenal sebagai kolesterol jahat.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved