Breaking News:

Terapi Stem Cell, Inovasi Baru untuk Pasien Covid-19 Kategori Berat? Menristek Angkat Bicara

Berbagai upaya dilakukan pemerintah sebagai upaya menangani pandemi Covid-19.

Tribunnews/Jeprima
Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro saat wawancara khusus dengan Tribun Network di Kantor Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2020). Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berbagai upaya dilakukan pemerintah sebagai upaya menangani pandemi Covid-19.

Termasuk melahirkan beragam inovasi teknologi yang berada di bawah Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) yang menaungi konsorsium itu kini menggelar webinar bertajuk 'Alternatif Terapi Covid-19 Dengan Mesenkimal Sel Punca & Eksosom', Jumat (5/1/2021).

Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro pun menjelaskan alasan di balik pemilihan tajuk webinar kali ini.

Baca juga: Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Lakukan Riset Soal Peluang Saliva Gantikan Swab

Menurutnya, dalam penanganan dan penanggulangan pandemi ini diperlukan Testing, Tracing dan Treatment (3T).

"Kenapa kita kemudian membahas secara spesifik mengenai stem cell (sel punca) dan eksosom? Tentunya kita semua paham bahwa dalam penanganan pandemi Covid-19 ini kita tahu istilah 3T yaitu testing, tracing dan treatment," ujar Bambang, dalam webinar tersebut.

Bambang menjelaskan, memperbanyak inovasi terkait alat testing (uji) Covid-19 dianggap lebih baik untuk mencegah terjadinya penularan yang lebih masif.

"Tentunya secara ideal akan lebih baik kalau segala persoalan dari Covid ini bisa diselesaikan di hulunya yaitu di testingnya, dengan tentunya menambah jumlah tes dan yang paling penting mencegah penularan yang lebih besar," jelas Bambang.

Kendati demikian, jika berkaca dari negara lainnya, tentunya masalah pandemi ini tidak akan selesai hanya dengan mengandalkan testing saja.

"Namun tentunya kalau kita melihat di berbagai belahan dunia, upaya hanya ditesting tentunya tidak bisa menangani semuanya," kata Bambang.

Karena pada akhirnya tetap saja ada yang terpapar, kemudian dari mereka yang terpapar itu dibagi dalam berbagai kategori.

Mulai dari Orang Tanpa Gejala (OTG), ringan, sedang hingga berat.

Sehingga ia menganggap perlu adanya terapi terkait perluasan upaya penanganan virus ini melalui metode terapi stem cell bagi pasien Covid-19 kategori berat.

"Meskipun sampai hari ini belum ada obat yang official atau obat resmi dari Covid-19, namun tentunya kita tidak boleh berhenti berupaya, dan upaya itu salah satunya ditunjukkan dengan upaya mendorong terapi. Termasuk misalkan terapi plasma konvalesen dan hari ini kita akan bahas khusus terapi yang berkaitan dengan stem cell dan eksosom," pungkas Bambang.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved