Bagaimana Deteksi Gangguan Pendengaran pada Balita? Dokter Beri Penjelasan
Mendeteksi secara dini gangguan pendengaran sangatlah penting, terutama pada anak. Sebab, itu menentukan tumbuh kembang mereka.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mendeteksi secara dini gangguan pendengaran sangatlah penting, terutama pada anak.
Menurut dr Fatia Permata Sari, Sp. THTKL, pendengaran sangat menentukan tumbuh kembang anak.
Bahkan dr Fatia mengatakan jika indera pendengaran merupakan salah satu modal agar anak dapat tumbuh berkembang secara baik. Untuk itu, perlu dilakukan upaya pengecekan pendengaran, bahkan saat anak masih bayi.
Untuk bayi sendiri, dr Fatia mengungkapkan selalu diadakan screening. Itu dilakukan anak baru saja dilahirkan.
dr Fatia mengatakan ada dua jenis bentuk pemeriksaan pada telinga bayi yaitu secara umum ada pula yang menggunakan alat.
Baca juga: Gangguan Pendengaran Bisa Disebabkan Kotoran Telinga, Ketahui Cara Mengatasinya
Namun karena saat ini di Indonesia belum semua instansi memiliki alat screening telinga.
Maka pemeriksaan secara khusus dilakukan pada bayi yang mempunyai risiko tinggi mengalami gangguan pendengaran.
Seperti bayi yang lahir sebelum waktunya (prematur), alami penyakit kuning, infeksi saat kehamilan atau setelah kelahiran. Selain itu pemeriksaan khusus juga dapat dilakukan kalau riwayat keluarga bayi memiliki gangguan pendengaran.
Namun pemeriksaan juga bisa dilakukan sendiri di rumah pada usia anak berumur 0-4 bulan.
Bayi biasanya memang lebih sering tidur. dr Fatia menyarankan untuk memerhatikan bayi. Ketika ada suara dan tidurnya terusik, maka kemungkinan pendengaran anak cukup baik.
Kemudian pada anak yang berumur 4-7 bulan, orangtua bisa deteksi pendengaran dengan cara menyapa anak. Jika pendengaran anak bagus, maka ia akan menoleh mencari asal suara.
Begitu pula pada anak usia 7-9 bulan. Biasanya di usia ini anak akan lebih fokus mencari suara.
Cobalah untuk mengecek pendengaran anak dengan memanggil namanya. Jika tidak ada respon maka orangtua patut untuk curiga.
"Bayi kerap mendengar apa yang diucapkan orang sekitar. Otomatis ia akan belajar mengucapkan. Kita curiga kalau 12 bulan anak masih diam dan tidak mengoceh sama sekali," ungkapnya acara Talkshow yang diadakan di akun Instagram Radio Kesehatan Kemenkes, Selasa (2/3/2021).
Terlebih pada usia 24 bulan, anak seharusnya sudah bisa menyebutkan 10 kosakata sudah banyak minimal. Beranjak pada usia 30 bulan, anak sudah bisa merangkai kata. Kalau anak masih tetap diam saat dipanggil, maka mungkin ada indikasi gangguan pendengaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-balita-anak-kecil-butuh-asu-han.jpg)