Breaking News:

Kepala BPOM: Kami Berupaya Dorong Hilirisasi Penelitian Obat Tradisional Agar Bisa Diproduksi Massal

Pengembangan dan penelitian terkait tumbuhan, hewan serta mineral pun terus dilakukan untuk menemukan ekstraksi yang terbukti...

screenshot
Kepala BPOM Penny K Lukito. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah terus mendorong pemanfaatan keanekaragaman hayati (biodiversity) Indonesia untuk mendukung industri farmasi tanah air demi menekan angka impor alat kesehatan (alkes) termasuk obat-obatan yang masih tinggi.

Pengembangan dan penelitian terkait tumbuhan, hewan serta mineral pun terus dilakukan untuk menemukan ekstraksi yang terbukti memiliki khasiat sebagai ramuan pencegah maupun pengobatan berbagai penyakit.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengatakan bahwa keanekaragaman hayati ini tentunya harus dimanfaatkan secara meluas dalam bidang kesehatan.

Baca juga: BPOM Berdayakan UMKM Pangan Olahan

Oleh karena itu, diperlukan pengembangan hingga hilirisasi penelitian keanekaragaman hayati ini.

"Sebagai warisan bangsa, kita tidak hanya sama-sama perlu melestarikan tapi juga membuatnya lebih produktif, mengembangkannya untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai upaya preventif maupun pengobatan untuk masyarakat Indonesia," ujar Penny, dalam agenda webinar bertajuk 'Cara Aman Menggunakan Obat Tradisional Di Masa Pandemi', Selasa (6/4/2021).

Ia kemudian menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong pengembangan penelitian dan pengembangan industri obat tradisional Indonesia agar bisa berdaya saing.

Baca juga: Ketua DPD RI Dorong BPOM Uji Klinis Vaksin untuk Anak Batita

"Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2016 tentang percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, di mana di dalamnya juga salah satunya terkait dengan pengembangan produk herbal," kata Penny.

Terkait pengembangan penelitian terhadap obat tradisional ini, pihaknya pun terlibat dalam Satuan Tugas (Satgas) yang fokus pada upaya mendorong hilirisasi penelitian mengenai obat jenis ini.

Sehingga obat tradisional ini dapat diproduksi secara massal dan digunakan pula dalam fasilitas layanan kesehatan (fasyankes).

Baca juga: Ketua DPD RI Dorong BPOM Uji Klinis Vaksin untuk Anak Batita

"Badan POM dalam keterlibatannya di Satuan Tugas atau Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka terus mendorong hilirisasi penelitian obat tradisional untuk menjadi produk yang sifatnya dapat diproduksi secara massal dan dapat digunakan dalam layanan kesehatan nasional melalui berbagai upaya, inovasi dan percepatan," tegas Penny.

Di masa pandemi virus corona (Covid-19) ini, ia pun memahami bahwa masyarakat mulai sadar betapa pentingnya kesehatan.

Sehingga banyak diantara mereka yang kini rutin mengkonsumsi obat tradisional, baik itu ramuan jamu maupun obat yang terbuat dari ekstraksi tumbuhan, hewan maupun mineral yang diyakini memiliki khasiat tertentu.

"Sebagian dari masyarakat kita mempercayai upaya kesehatan, pencegahan penyakit dan perawatan kesehatan. Masyarakat rutin sekarang mengkonsumsi obat tradisional atau obat herbal atau produk-produk natural," pungkas Penny.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved