Sabtu, 13 Juni 2026

YKPI : Perlu Ada Regulasi Penanganan dan Pengobatan Kanker di Pandemi Covid-19

WHO melalui Global Breast Cancer Initiative pada Maret 2021 lalu, menargetkan kematian akibat kanker payudara sebesar 2,5% per tahun sampai 2040

Tayang:
Shutterstock
Ilustrasi waspadai gejala awal kanker payudara 

Komunikasi antara dokter dan pasien juga mengalami kendala karena dilakukan secara daring melalui telemedicine. 

“Ini tidak pernah bisa maksimal, karena tidak semua praktik atau profesi bisa dilakukan dengan telemedicine. Saat pemeriksaan perlu melihat langsung klinis pasien, meraba, memegang. Foto pun tidak bisa mewakili sepenuhnya, sehingga kesulitan. Kalau saya pribadi daripada salah diagnostik, lebih baik tunda dulu hingga kondisinya memungkinkan. Bila dipaksakan bisa membahayakan pasien,” papar dr. Walta. 

Selain itu Covid-19 juga memperburuk kondisi pasien kanker. Angka kematian orang normal akibat Covid-19 di dunia sekitar 3-5%.

Jika pasien kanker terkena Covid-19, angka kematiannya menjadi 26-28%. Ini juga terjadi di RSK Dharmais dari Maret 2020-Februari 2021, di mana angka kematian pasien kanker yang terinfeksi Covid-19 mencapai 22%. 

Baca juga: Indonesia Terima 450 Ribu Dosis Vaksin AstraZeneca Donasi Kerjaan Belanda

“Jalan keluarnya adalah vaksin. Berdasarkan temuan PERABOI, dari 200 pasien kanker yang divaksin, KIPI hanya ditemukan pada 2-3 orang, itu pun tidak berat,” ungkap dr. Walta. 

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengimbau agar pemerintah bisa mengeluarkan rekomendasi yang pasti terkait vaksinasi pada pasien kanker. Ini juga upaya untuk menurunkan angka kematian pasien kanker payudara,” ujar Ning Anhar. 

*Penanganan Kanker Payudara Lebih Multidisiplin*

Dr. Kardinah SpRad(K) dari  Indonesian Women Imaging Society (IWIS) juga mencatat sejumlah hasil dari SEABCS ke-5.

Salah satu yang paling penting adalah kolaborasi dengan American Society Clinical Oncology (ASCO) untuk membuat standar tatalaksana pasien kanker payudara yang lebih multidisiplin di Indonesia. 

Menurut dr. Kardinah, bentuk konkret kolaborasi ini berupa pertukaran narasumber atau training yang sesuai dengan program ASCO.

Selain itu pengembangan artificial intelegent (AI) dalam breast imaging,  diagnotsik, maupun skrining. 

“Dengan mengikutsertakan profesi, bisa menjadi perluasan wawasan sehingga dokter spesialis tidak terfokus pada satu bidangnya saja. Penanganan pasien kanker payudara stadium lanjut harus multidisiplin dengan mengedepankan komunikasi yang efektif antara pasien dan dokter. Saat ini paradigma pengobatan berubah, di mana pasien berhak mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya,” jelasnya. 

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar menekankan, perlunya  rangkaian program yang berkesinambungan, dimulai dari kebijakan, pelaksanaan di tingkat Fasilitas Kesehatan Primer hingga Tersier dan tenaga profesi kedokteran agar upaya penurunan kanker payudara stadium lanjut dapat terlaksana dan memberikan hasil yang nyata.

"Kerjasama internasional, regional, dan tingkat nasional merupakan penguatan bersama untuk memerangi kanker payudara," tutur Linda.

SEABCS 2021 diikuti oleh 1.248 peserta yang didominasi oleh penyintas kanker payudara dan pendamping, komunitas kanker payudara, dokter, serta tenaga medis dari berbagai negara.

SEABCS ke-6 akan diselenggarakan pada tahun 2022 di Pilipina. 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved