Rabu, 8 April 2026

Mom, Protein Hewani Bisa Jadi Senjata Ampuh Perangi Stunting Loh!

Jumlah anak yang mengalami stunting di Indonesia masih tergolong tinggi.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Willem Jonata
freepik.com
Ilustrasi makanan berprotein 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Memiliki anak yang terlahir sehat dan optimal dalam tahapan tumbuh kembangnya tentu menjadi harapan bagi setiap orang tua di dunia, termasuk di Indonesia.

Para orang tua, baik ayah maupun ibu, tentunya akan melakukan apapun yang terbaik bagi anak mereka agar tumbuh menjadi generasi unggul.

Termasuk memberikan asupan makanan yang mengandung gizi seimbang dan nutrisi tinggi.

Namun mirisnya, saat ini masih banyak anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhannya.

Bahkan sebagian diantara mereka cenderung mengalami gangguan pada proses tumbuh kembangnya.

Satu dari beragam gangguan yang banyak dialami anak dan menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua adalah stunting.

Perlu diketahui, stunting kini masih menjadi isu yang sangat penting di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan angka yang menjadi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah anak yang mengalami stunting di negara ini masih tergolong tinggi.

Baca juga: Cegah Stunting, Kementan Bakal Perbanyak Varietas Padi Bernutrisi Tinggi

Pemerintah pun hingga kini masih concern pada isu stunting, karena isu ini dianggap sebagai penghambat pertumbuhan Sumber Daya Manusia (SDM), padahal Indonesia diperkirakan akan mencapai puncak bonus demografi pada 2030.

Termasuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang masih mencari strategi percepatan pencegahan masalah ini.

Oleh karena itu, untuk menuju Indonesia Maju dan memiliki SDM Unggul, maka anak-anak Indonesia tentunya harus terbebas dari stunting.

Lalu apa itu stunting?

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang disebabkan kekurangan gizi kronis, ini terutama terjadi dalam masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Nah, jika dilihat dari angka Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, persentase anak yang memiliki status gizi pendek atau sangat pendek, mencapai angka sekitar 30,8 persen.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved