Senin, 8 Juni 2026

Mom, Protein Hewani Bisa Jadi Senjata Ampuh Perangi Stunting Loh!

Jumlah anak yang mengalami stunting di Indonesia masih tergolong tinggi.

Tayang:
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Willem Jonata
freepik.com
Ilustrasi makanan berprotein 

Namun berdasar pada Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), prevalensinya mengalami penurunan pada 2019, yakni menjadi 27,7 persen.

Petugas kesehatan dari Puskesmas Nagaswidak melakukan pendataan pasien BPJS pada program Kunjungan Sehat di Posyandu Sayang Ibu, Kawasan 11 Ulu, Gang Bersama, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (12/8/2022). BPJS Kesehatan mendorong fasilitas kesehatan untuk berkomitmen menjaga kualitas pelayanan kepada peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Dengan adanya Kunjungan Sehat dan Posyandu dari fasilitas kesehatan (faskes) tingkat 1 dapat mencegah terjadinya stunting dan gizi buruk pada ibu hamil dan anak balita. TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
Petugas kesehatan dari Puskesmas Nagaswidak melakukan pendataan pasien BPJS pada program Kunjungan Sehat di Posyandu Sayang Ibu, Kawasan 11 Ulu, Gang Bersama, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (12/8/2022). BPJS Kesehatan mendorong fasilitas kesehatan untuk berkomitmen menjaga kualitas pelayanan kepada peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Dengan adanya Kunjungan Sehat dan Posyandu dari fasilitas kesehatan (faskes) tingkat 1 dapat mencegah terjadinya stunting dan gizi buruk pada ibu hamil dan anak balita. TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO (TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO)

Kemudian kembali turun menjadi 24,4 persen pada 2021.

Kendati turun hingga mencapai 24,4 persen, angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan oleh WHO yakni di bawah 20 persen.

Melihat masih cukup tingginya angka prevalensi stunting di Indonesia, pemerintah maupun sektor swasta pun terus menggiatkan berbagai upaya untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Ahli Gizi dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH., mengatakan bahwa anak yang mengalami stunting tentu akan terlihat lebih pendek jika dibandingkan anak lainnya pada usia yang sama.

"Stunting itu menurut WHO dan UNICEF adalah anak balita yang memiliki tinggi badan kurang dari standar umurnya," ujar Prof Fika, dalam live talkshow JAPFATalk bertajuk 'Generasi Indonesia Bebas Stunting' di kanal YouTube, Jumat (29/7/2022).

Ia pun mengingatkan para orang tua untuk memperhatikan asupan nutrisi anak mereka sejak masih dalam kandungan hingga momen periode emas (golden period), yakni 1.000 HPK.

Tanda anak mengalami stunting ini, kata dia, sebenarnya sudah bisa terlihat sejak usia 2 tahun.

"Nah permasalahan stunting ini dimulai sejak dia di 1.000 hari pertama kehidupan ya. Dan bukan hanya itu, mulai dia dari kandungan sampai dia mengalami masa anak-anak tersebut, bahkan di usia 2 tahun pun stunting sudah bisa terlihat," kata Prof Fika.

Namun mirisnya, ternyata banyak ibu hamil yang belum memahami pentingnya nutrisi pada saat masa kehamilan.

Padahal nutrisi yang cukup pada ibu hamil akan membuat pertumbuhan bayinya berlangsung optimal saat masih berada dalam kandungan.

Keterbatasan pengetahuan terkait pentingnya memperhatikan nutrisi dan gizi seimbang inilah yang menjadi tantangan pemerintah hingga saat ini.

"Ya jadi permasalahan stunting itu karena anak mengalami kekurangan gizi kronis yang biasanya dimulai sejak dia dalam masa kandungan. Jadi anak tersebut misalnya ibunya status gizinya kurang," jelas Prof Fika.

Yang perlu dicatat, jika anak terlahir dalam kondisi stunting, maka generasi penerusnya pun berpotensi mengalami hal yang sama.

Di Indonesia, kata dia, anemia menjadi salah satu penyakit yang dialami mayoritas ibu hamil.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved