Kamis, 30 April 2026

Tradisi Makan Siang di Indonesia Cerminkan Daya Tahan Budaya

Makan siang di Indonesia bukan hanya soal isi piring, tetapi juga tentang nilai, tradisi, relasi sosial, dan perubahan zaman. 

Tayang:
Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Wahyu Aji
HO/Omar Niode Foundation
TRADISI MAKAN SIANG - Peluncuran buku bilingual Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya (Lunch Traditions in Indonesia: A Collection of Dishes and Displays), di Rumah Kayu, Ubud, Bali. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Makan siang di Indonesia bukan hanya soal isi piring, tetapi juga tentang nilai, tradisi, relasi sosial, dan perubahan zaman. 

Hal itu terungkap dalam diskusi peluncuran buku bilingual Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya (Lunch Traditions in Indonesia: A Collection of Dishes and Displays), di Rumah Kayu, Ubud, Bali.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Ubud Food Festival 2025 yang mengusung tema Heritage.

Buku yang disunting oleh Amanda Katili Niode, Ph.D., dan merupakan hasil kolaborasi antara Omar Niode Foundation, Yayasan Nusa Gastronomi Indonesia, dan Komunitas Food Blogger Indonesia, serta diterbitkan oleh Diomedia Publishing.

"Buku ini bukan hanya kumpulan resep, melainkan potret kehidupan harian masyarakat Indonesia dari sudut pandang kuliner. Makan siang mencerminkan nilai kekeluargaan, kreativitas lokal, dan bahkan daya tahan budaya," kata Amanda

Ketua Omar Niode Foundation ini menuturkan buku At the Table karya Ken Albala menjadi inspirasi dalam memahami pentingnya budaya makan di berbagai belahan dunia.

Buku yang membahas makan malam di puluhan negara ini melibatkan Amanda sebagai salah satu kontributor yang membahas Indonesia.

Melalui 40 tulisan dari 17 provinsi di 8 pulau, buku tersebut menyajikan potret kaya ragam kuliner Nusantara, dari Papeda di Papua, Soto Banjar di Kalimantan Selatan, hingga Rujak Cingur dari Jawa Timur. 

"Resep turun-temurun, teknik memasak khas, pilihan wadah penyajian, dan cara menyantap semuanya membentuk narasi yang menghidupkan kembali makna makan siang dalam keseharian," katanya. 

Peluncuran buku diawali sambutan Direktur Promosi Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Undri S.S., M.Si., yang mendukung upaya pelestarian budaya kuliner Nusantara.

Acara menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Amanda Katili Niode, editor buku dan pegiat keberlanjutan pangan, Mei Batubara, tokoh pelestari budaya kuliner dan penulis prolog buku, dan Harry Mangat, chef asal Indiapendiri Biji Dining, sebuah proyek pop-up dining nomaden. 

Acara dipandu oleh Robby Bagindo dari Masak TV dan Tastemade, yang membuat suasana diskusi menjadi akrab namun menggugah. 

Mei Batubara, Direktur Eksekutif Yayasan Nusa Gastronomi Indonesia, menggarisbawahi urgensi dokumentasi budaya kuliner sebagai warisan bangsa.

Baca juga: Prabowo Jamu Macron Makan Siang di Akmil Magelang Diiringi Lagu Classic Rock

Sementara Chef Harry Mangat mengisahkan pengalamannya menjaga rasa makanan tradisional India warisan keluarganya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved