Sabtu, 9 Mei 2026

Satgas IDAI Ingatkan Manfaat Vaksin Lebih Besar, Orang Tua Diimbau Tidak Menolaknya

Tahun 2025 Indonesia masuk dalam sepuluh besar negara dengan kasus campak tertinggi di dunia. Hal ini bukti bahwa cakupan imunisasi dasar tak lengkap.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
Tribunnews/Aisyah Nur Syamsi
PRIHATIN HOAKS VAKSIN - Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunadi, SpA(K) dalam Edukasi Media bertajuk Program Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI): Selamatkan Nyawa dari Penyakit Berbahaya, di Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025). Prof Hartono mengimbau orang tua agar tidak menunda atau menolak imunisasi. Sebab, imunisasi bukan hanya melindungi anak sendiri, tapi juga membentuk kekebalan kelompok yang melindungi seluruh masyarakat. 
Ringkasan Berita:
  • Pemberian imunisasi dasar lengkap mampu menurunkan angka kejadian penyakit seperti polio, difteri, pertusis, gondongan, rubella, hingga campak hingga 97–100 persen. 
  • Negara-negara maju bahkan telah membuktikan penurunan drastis kasus campak sejak vaksin pertama diperkenalkan pada 1964. Namun, kondisi di Indonesia masih mengkhawatirkan. 
  • Tahun 2025, Indonesia termasuk dalam sepuluh besar negara dengan kasus campak tertinggi di dunia

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Imunisasi terbukti menjadi langkah paling efektif dalam mencegah berbagai penyakit berbahaya pada anak. Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunadi, SpA(K) menegaskan bahwa manfaat imunisasi jauh melampaui risiko efek samping yang bersifat ringan dan sementara.

Baca juga: 10 Anak Meninggal di Pamekasan karena Campak, Hoaks dan Ketakutan Hambat Imunisasi

“Ini adalah bukti yang tidak dapat dibantahkan,” ujarnya dalam Edukasi Media bertajuk Program Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI): Selamatkan Nyawa dari Penyakit Berbahaya, di Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025).

Menurut Prof Hartono, pemberian imunisasi dasar lengkap mampu menurunkan angka kejadian penyakit seperti polio, difteri, pertusis, gondongan, rubella, hingga campak hingga 97–100 persen. 

Negara-negara maju bahkan telah membuktikan penurunan drastis kasus campak sejak vaksin pertama diperkenalkan pada 1964. Namun, kondisi di Indonesia masih mengkhawatirkan. 

Tahun 2025, Indonesia termasuk dalam sepuluh besar negara dengan kasus campak tertinggi di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap belum optimal di berbagai wilayah.

Ia menambahkan, anak yang tidak mendapatkan imunisasi memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi berat. Misalnya, campak yang tak tertangani dapat memicu radang otak, diare berkepanjangan, hingga gangguan pernapasan serius.

Sebaliknya, efek samping imunisasi seperti demam ringan, bengkak di tempat suntikan, atau ruam kulit biasanya hilang dalam satu hingga dua hari.

“Manfaat imunisasi jauh lebih besar daripada risikonya,” tegasnya.

Prof Hartono mengimbau orang tua agar tidak menunda atau menolak imunisasi. Sebab, imunisasi bukan hanya melindungi anak sendiri, tapi juga membentuk kekebalan kelompok yang melindungi seluruh masyarakat.

Baca juga: Anak Harus Tiga Kali Suntik Imunisasi Campak Rubella, Ini Penjelasan Dokter Anak

Diketahui Kabupaten Sumenep di Madura baru saja menetapkan kejadian luar biasa (KLB) campak dengan lebih dari dua ribu kasus suspek dan 17 anak meninggal dunia. Salah satu penyebab kasus tersebut banyak karena muncul ketidakpercayaan terhadap vaksin.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved