Selasa, 5 Mei 2026

Hati-Hati, RSV Bisa Picu Gagal Jantung hingga Serangan Jantung pada Lansia

Di tengah meningkatnya kasus penyakit saluran napas, Respiratory Syncytial Virus (RSV) kembali menjadi sorotan dunia medis. 

Tayang:
dok. Nakita/Ipoel
ILUSTRASI SESAK NAPAS - BAGI jutaan orang, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau naik tangga bisa menjadi perjuangan berat akibat sesak napas yang membatasi ruang gerak mereka. Di tengah meningkatnya kasus penyakit saluran napas, Respiratory Syncytial Virus (RSV) kembali menjadi sorotan dunia medis.  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Respiratory Syncytial Virus (RSV) kembali menjadi sorotan dunia medis.
  • Virus ini lebih populer sebagai penyebab infeksi pada bayi.
  • Padahal risikonya bagi lansia justru jauh lebih besar dan sering terlewatkan.

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah meningkatnya kasus penyakit saluran napas, Respiratory Syncytial Virus (RSV) kembali menjadi sorotan dunia medis. 

Selama ini virus ini lebih populer sebagai penyebab infeksi pada bayi, padahal risikonya bagi lansia justru jauh lebih besar dan sering terlewatkan.

Baca juga: Bayi Prematur Lebih Rentan Diserang RSV, Bisa Picu Asma dan Gangguan Tumbuh Kembang

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus anggota Technical Advisory Group on Access, Watch, and Reserve (AWaRe) World Health Organization (WHO), dr. Robert Sinto, SpPD, K-PTI, DPhil, FINASIM, FHEA, menekankan bahwa isu lansia dan RSV perlu mendapat perhatian khusus.

“Pertama adalah risikonya, kemudian komplikasinya, dan yang ketiga adalah pencegahannya,” ujarnya dalam Sahabat Peduli Journalist Club Edisi ke-3 oleh Pfizer bertajuk “Menjaga Napas di Usia Senja: Mengulik Bahaya RSV Pada Lansia dan Cara Mencegahnya”, Rabu (3/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa memahami RSV tidak cukup hanya melihat kondisi saat pasien terinfeksi.

Tetapi juga bagaimana konsekuensi jangka panjang dapat memengaruhi kualitas hidup, terutama pada usia lanjut.


RSV di Dunia: 3–7 Persen Orang Bisa Terinfeksi dalam Waktu yang Sama

RSV bukan virus yang langka. Secara global, penelitian menunjukkan bahwa 3–7 persen populasi bisa terinfeksi pada waktu yang sama. 

Pada kelompok berisiko tinggi seperti lansia atau orang dewasa dengan penyakit tertentu, angkanya bahkan mencapai 4–10 persen.

Baca juga: Napas Anak Sering Grok-grok Saat Flu? Begini Teknik Cuci Hidung yang Benar dan Aman

“Jadi misalnya saya mengumpulkan 100 orang, maka akan ada 3–7 persen orang yang akan terinfeksi oleh RSV ini,” jelas dr. Robert.

Masalahnya, sebagian besar kasus tidak terdeteksi karena gejalanya kerap dianggap flu biasa. 

Padahal sekitar 17–28 persen pasien justru akan mencari pertolongan medis, 4–10 persen berakhir dirawat inap, dan 6–15 persen masuk ICU. 

Dari kelompok pasien ICU, 1–10 persen meninggal dunia.

Angka kematian itu terlihat kecil, tetapi dalam skala populasi dunia, dampaknya sangat signifikan.

“Itu sebabnya kenapa dunia menjadi concern dengan RSV ini dan Indonesia juga harus jadi concern,” tambahnya.

 

Lansia: Kelompok yang Paling Diam-Diam Terpukul

Walaupun banyak yang mengira RSV hanya berbahaya bagi pasien dengan komorbid, dr. Robert menegaskan bahwa usia lanjut sendiri sudah menjadi faktor risiko berat, sekalipun tanpa penyakit penyerta.

“Pasien lansia sehat sekalipun, kalau terkena RSV. Itu sudah membuat risiko bisa menjadi lebih tinggi untuk masuk ke infeksi berat,” tegasnya.

Penyebabnya bukan hanya virus, tetapi juga dampak tidak langsung seperti:

  • -Turunnya nafsu makan
  • -Dehidrasi
  • -Gangguan nutrisi
  • -Kelemahan fisik

Ketidakmampuan menjaga kebutuhan dasar seperti minum, bergerak, atau mengambil obat


Kondisi-kondisi ini membuat lansia lebih mudah jatuh sakit dan akhirnya membutuhkan perawatan di rumah sakit, bahkan pada kasus infeksi ringan.

Data menunjukkan bahwa lansia di atas 75 tahun memiliki risiko enam kali lipat lebih besar untuk masuk rumah sakit akibat RSV. Risiko dapat meningkat jika ada dua atau lebih penyakit kronis yang menyertai.


*Ketika Lansia Sembuh, Masalah Belum Selesai: Komplikasi Jangka Panjang yang Sering Tak Disadari*

Salah satu aspek RSV yang jarang dibahas adalah dampak jangka panjang. Dr. Robert menjelaskan bahwa infeksi RSV dapat memicu proses pembekuan darah abnormal yang memengaruhi:

  • Pembuluh arteri
  • Pembuluh vena
  • Fungsi jantung
  • Fungsi paru


Konsekuensinya bisa muncul berminggu-minggu setelah pasien dinyatakan sembuh.

Pada pasien lansia, efek ini biasanya jauh lebih berat. Beberapa komplikasi yang sering muncul:

1. Gagal jantung dan gangguan kardiovaskular

Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien dengan penyakit jantung bawaan, 25 persen di antaranya mengalami gagal jantung setelah infeksi RSV. Banyak dari mereka sebelumnya berada dalam kondisi stabil.

2. Kekambuhan penyakit paru

Pada lansia dengan PPOK atau penyakit paru kronis, RSV dapat memicu kekambuhan yang lebih berat.

3. Penurunan fungsi fisik dan stamina

Pasien sering mengalami kelelahan panjang, sesak napas, hingga penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.

4. Serangan jantung dan komplikasi kardiovaskular lain

RSV terbukti mampu menstimulasi peradangan yang meningkatkan risiko kejadian jantung.

Ini menunjukkan bahwa bagi lansia, RSV bukan hanya infeksi harian, melainkan pemicu rangkaian gangguan kesehatan yang berkepanjangan.


Mengapa Risiko Lansia Berlipat?

Selain perubahan fisiologis alami karena penuaan, dr. Robert menjelaskan bahwa lansia lebih mudah mengalami:

Penurunan kekuatan otot napas

Penurunan respons imun

Kesulitan mempertahankan kebutuhan nutrisi saat sakit

Ketergantungan terhadap obat harian yang rentan terputus saat infeksi


Kondisi kecil seperti kehilangan nafsu makan bisa membuat lansia harus dirawat.

“Orang tua kalau terkena infeksi yang bahkan ringan, nafsu makan turun, nanti harus masuk ke rumah sakitnya karena nafsu makan tersebut… dan itu yang membuat dia jadi masuk ke rumah sakit,” jelas dr. Robert.


*Deteksi Dini Masih Jadi Tantangan Besar di Indonesia*

RSV sulit dideteksi di Indonesia karena pemeriksaan tidak dilakukan secara rutin. Banyak pasien lansia dengan keluhan batuk pilek akhirnya tidak diperiksa virus penyebabnya, sehingga risiko terlewat.

Contoh dari Singapura menunjukkan bahwa dari pasien yang batuk pilek dan negatif influenza, sekitar 5 persen ternyata RSV. Angka ini diprediksi lebih tinggi di Indonesia.

Artinya, banyak lansia yang sebenarnya mengalami RSV tetapi tidak pernah tercatat.

*Siapa Saja Lansia yang Berisiko Berat?*

Selain faktor usia, risiko meningkat pada lansia dengan:

  • Penyakit paru kronis
  • Penyakit jantung
  • Gangguan ginjal
  • Gangguan imun
  • Diabetes
  • Obesitas
  • Riwayat stroke


Dari semua kelompok komorbid, pasien gagal ginjal adalah yang paling tinggi risikonya—yakni 6,5 kali lipat mengalami infeksi RSV berat.


*Menghadapi Masa Depan: Pencegahan Jadi Langkah Penting*

Dr. Robert menekankan bahwa memahami RSV pada lansia bukan hanya tentang menghindari infeksi, tetapi memikirkan kesejahteraan jangka panjang.

Pemantauan harus dilakukan bahkan setelah pasien dinyatakan sembuh. Termasuk:

  • Evaluasi fungsi jantung
  • Pemantauan paru
  • Nutrisi dan hidrasi
  • Aktivitas fisik bertahap
  • Pencegahan kekambuhan infeksi


Ia mengingatkan bahwa RSV harus dilihat sebagai ancaman serius bagi lansia, bukan karena mematikan saja, tetapi karena dampak panjang yang dapat menurunkan kualitas hidup.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved