Jumat, 5 Juni 2026

Waspada Holiday Heart Syndrome, Euforia Liburan Bisa Jadi Pemicu Gangguan Jantung

Dokter mengingatkan adanya ancaman kesehatan yang kerap luput diperhatikan, yakni holiday heart syndrome atau sindrom jantung saat liburan.

Tayang:
Shutterstock
Ilustrasi liburan. Dokter mengingatkan adanya ancaman kesehatan yang kerap luput diperhatikan, yakni holiday heart syndrome atau sindrom jantung saat liburan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Holiday heart syndrome atau sindrom jantung saat liburan jadi ancaman kesehatan Kerap luput diperhatikan.
  • Mengapa Risiko Jantung Meningkat Saat Liburan?
  • Dokter bedah kardiotoraks Dr. Jeremy London menjelaskan pemicunya.
 

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Liburan akhir tahun sering dipersepsikan sebagai waktu paling membahagiakan. Berkumpul dengan keluarga, pesta makanan, perjalanan jauh, hingga momen refleksi penutup tahun. 

Namun di balik suasana hangat tersebut, dokter mengingatkan adanya ancaman kesehatan yang kerap luput diperhatikan, yakni holiday heart syndrome atau sindrom jantung saat liburan.

Baca juga: Hanya di Jakarta, Rio Dewanto Tak Nyaman Pamer Kebahagiaan Liburan saat Banyak Bencana

Fenomena ini bukan istilah baru di dunia medis. 

Dilansir Dar Fox News, Holiday heart syndrome merujuk pada meningkatnya kejadian gangguan jantung, mulai dari irama jantung tidak normal hingga serangan jantung, yang muncul seiring perubahan gaya hidup selama musim liburan.

Mengapa Risiko Jantung Meningkat Saat Liburan?

Dokter bedah kardiotoraks Dr. Jeremy London menjelaskan bahwa lonjakan kasus gangguan jantung menjelang Natal dan Tahun Baru terjadi secara konsisten setiap tahun.

“Setiap tahun, seperti yang sudah diprediksi, kita melihat lonjakan serangan jantung di sekitar Natal dan Tahun Baru. Bahkan, Malam Natal adalah hari dengan risiko tertinggi sepanjang tahun," ungkapnya dikutip, Minggu (28/12/2025). 

Menurut London, liburan sering kali memicu perubahan perilaku secara bersamaan. 

Konsumsi alkohol meningkat, porsi makan membesar, aktivitas fisik berkurang, dan waktu tidur menjadi tidak teratur. 

Semua faktor ini memberi tekanan tambahan pada jantung, terutama bagi mereka yang sudah memiliki faktor risiko sebelumnya.

Baca juga: Ahli Kardiologi Ungkap Banyak Penyakit Jantung Bawaan Tidak Terdeteksi Hingga Dewasa, Ini Bahayanya

Tekanan emosional juga memainkan peran penting. 

Stres akibat perjalanan, kewajiban keluarga, hingga beban finansial di akhir tahun dapat memicu respons fisiologis tubuh yang berdampak langsung pada sistem kardiovaskular.

Tak hanya itu, cuaca dingin turut berkontribusi. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved