Harusnya Bahagia, Tapi Mengapa Liburan Justru Stres? Emosi Terkuras karena Holiday Burnout
Liburan akhir tahun kerap dibayangkan sebagai waktu paling menyenangkan. Tapi faktanya banyak yang alami stres, emosi terkuras.
Topik sensitif sering memicu ketegangan emosional yang menguras energi.
Menetapkan batasan sejak awal dapat mencegah konflik berlarut. Menyampaikan penolakan dengan tenang bukan tanda tidak peduli, melainkan bentuk menjaga kesehatan mental.
“Saya lebih suka tidak membahas topik itu.”
Kalimat sederhana ini bisa menjadi pelindung emosi di tengah suasana yang padat.
Perawatan Diri Bukan Sikap Egois
Banyak orang mengorbankan tidur, pola makan, dan istirahat demi liburan. Padahal, American Heart Association mencatat 79 persen orang mengaku sangat stres hingga mengabaikan kebutuhan kesehatan mereka sendiri selama liburan.
Beristirahat, menunda undangan, atau tidak langsung membalas pesan adalah bagian dari perawatan diri. Saat energi mulai habis, jeda singkat justru membantu tubuh dan pikiran pulih.
Tidak Harus Menanggung Semuanya Sendiri
Mendelegasikan tugas dan menerima bantuan dapat meringankan beban mental. Bahkan waktu singkat untuk bernapas dan menenangkan diri mampu membantu sistem saraf kembali stabil.
Guttman menegaskan, pemulihan tidak harus lama untuk berdampak.
“Konsistensi lebih penting daripada durasi,"tegasnya dikutip, Minggu (28/12/2025).
Holiday burnout bukan tanda kurang bersyukur.
Kondisi ini muncul ketika seseorang lupa menjaga batasan diri.
Dengan perencanaan yang sadar, baik soal waktu, energi, maupun emosi, liburan bisa kembali menjadi ruang jeda, bukan sumber kelelahan.
Liburan seharusnya memulihkan, bukan meninggalkan lelah yang terbawa hingga tahun baru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-post-holiday-blues-kondisi-emosional-usai-liburan-berakhir.jpg)