Mengapa Disebut Flu Super? Asal-usul Istilah dan Karakter Virus
Penamaan flu super ini digunakan untuk menggambarkan gelombang infeksi influenza yang dinilai lebih cepat menyebar.
Ringkasan Berita:
- “Flu super” bukan istilah medis resmi
- Disebabkan oleh subklade K turunan influenza A H3N2
- Penyebaran lebih cepat dan gejala lebih berat
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Istilah flu super belakangan ramai diperbincangkan.
Kasus pesakitan flu super ini diketahui tengah mengila di beberapa negara seperti Inggris hingga Amerika.
Penamaan flu super ini digunakan untuk menggambarkan gelombang infeksi influenza yang dinilai lebih cepat menyebar dan menimbulkan gejala lebih berat.
Namun, menurut Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Global Dicky Budiman mengungkapkan jika sebutan tersebut sejatinya bukan istilah medis resmi.
“Jadi sebetulnya super flu itu ya nama yang disematkan oleh media ya sebetulnya," ungkap Dicky pada keterangannya, Rabu (31/12/2025).
Secara ilmiah, kondisi yang disebut flu super merujuk pada subklade K, turunan dari virus influenza A tipe H3N2.
Virus ini merupakan bagian dari influenza A, salah satu tipe influenza yang memang rutin menyebabkan wabah musiman pada manusia.
Bukan Virus Baru, tapi Varian yang Lebih Agresif
Influenza disebabkan oleh empat tipe virus, yakni A, B, C, dan D. Dari keempatnya, influenza A dan B paling sering bersirkulasi secara luas pada manusia.
Influenza A sendiri memiliki kemampuan bermutasi yang sangat cepat, sehingga melahirkan banyak turunan.
Selain H1N1 yang kini sudah bersifat endemik, H3N2 dikenal memiliki kecenderungan menimbulkan gejala yang lebih berat.
Subklade K merupakan turunan lanjutan dari H3N2 yang mulai terdeteksi secara global pada pertengahan 2025.
“H3N2 ini juga terutama yang menginfeksi manusia, dan cenderung lebih parah sebetulnya H3N2 ini dibanding H1N1,”imbuhnya.
Lebih Cepat Menyebar, Gejala Lebih Terasa
Salah satu alasan utama munculnya istilah flu super adalah pola penyebaran yang lebih cepat dari siklus influenza biasanya.
Jika flu musiman umumnya memuncak saat musim dingin, subklade K justru memicu lonjakan kasus lebih awal.
“Pertama lebih cepat menyebabkan wabah. Jadi mungkin bisa satu bulan lebih cepat dari siklus rutin ya,” jelas Dicky.
Selain itu, gejala yang dialami pasien juga lebih kentara, terutama pada kelompok usia rentan. Batuk berlangsung lebih lama, dahak lebih banyak, serta nyeri tenggorokan terasa lebih pedas dan mengganggu aktivitas.
Baca juga: Flu Super Merebak di Musim Dingin, Rumah Sakit Inggris Kewalahan Terima Ribuan Pasien
Meski bukan pandemi baru, karakter inilah yang membuat subklade K dinilai tidak bisa disamakan dengan flu biasa, terutama pada kelompok berisiko.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-flu-dan-pilek-dsg.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.