Senin, 27 April 2026

Kasus Kanker pada Usia Produktif Jadi Sorotan dalam Pertemuan Ilmiah di Jakarta

Kasus kanker yang semakin banyak ditemukan pada usia produktif menjadi sorotan dalam pertemuan ilmiah

Tayang:
Editor: Wahyu Aji
Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
Kasus kanker yang semakin banyak ditemukan pada usia produktif menjadi sorotan dalam pertemuan ilmiah bertema “Advancing Cancer Care in Indonesia” di Jakarta, Rabu (12/2). Para pakar menilai dalam satu dekade terakhir terjadi tren pergeseran usia pasien kanker yang kian muda, bahkan sebagian berusia di bawah 30 tahun misalnya pada kasus kanker kolorektral. 

Ringkasan Berita:
  • Para pakar mencatat dalam satu dekade terakhir terjadi pergeseran usia pasien kanker ke kelompok usia produktif, bahkan di bawah 30 tahun, khususnya pada kanker kolorektral.
  • Kebiasaan seperti konsumsi alkohol, rokok, minuman manis, dan gula berlebih meningkatkan risiko kanker saluran cerna. 
  • Pada kanker payudara, perubahan pola hidup perempuan modern—menunda kehamilan, masa menyusui lebih singkat, serta paparan estrogen lebih lama—ikut meningkatkan risiko.

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA -- Kasus kanker yang semakin banyak ditemukan pada usia produktif menjadi sorotan dalam pertemuan ilmiah bertema “Advancing Cancer Care in Indonesia” di Jakarta, Rabu (12/2). 

Para pakar menilai dalam satu dekade terakhir terjadi tren pergeseran usia pasien kanker yang kian muda, bahkan sebagian berusia di bawah 30 tahun misalnya pada kasus kanker kolorektral.

“Dalam satu dekade terakhir, kami melihat tren usia penderita kanker kolorektral semakin muda. Banyak pasien yang kami tangani bahkan berusia di bawah 30 tahun,” ujar dokter subspesialis bedah digestif dr. Seno Budi Santoso dalam paparannya.

Dokter Seno mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi itu. Seperti faktor genetik hingga lingkungan serta gaya hidup.

“Konsumsi alkohol, minuman manis, rokok, serta asupan gula berlebihan menjadi faktor gaya hidup yang dapat memicu kanker. Ada faktor yang bisa dikendalikan, ada juga yang tidak,” jelasnya.

Ia lalu mengingatkan, masyarakat untuk mewaspadai perubahan pola buang air besar sebagai salah satu gejala kanker saluran cerna.

Misalnya rutinitas buang air besar (BAB) semakin sering bisa 3 – 5 kali sehari hingga keluhan BAB yang berdarah.

“Jadi gejala itu yang harus diperhatikan, diwaspadai dan segera periksa ke dokter,” ungkap dokter di RS EMC Pulomas ini.

Dari sisi kanker payudara, konsultan bedah onkologi di RS EMC Alam Sutera ini Denni Joko Purwanto menyebut, secara global, angka kejadian kanker payudara di negara-negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang.

Namun, tingkat keganasan penyakit justru relatif lebih tinggi di negara-negara Asia dan berkembang, termasuk Indonesia.

“Ada banyak faktor, misalnya gene profiling dan gaya hidup,” ujar dia.

Ia memaparkan, dulu perempuan menikah di usia lebih muda, memiliki banyak anak, dan menyusui lebih lama. 

Namun sekarang banyak perempuan menempuh pendidikan lebih tinggi, bekerja, menunda kehamilan, dan masa menyusuinya lebih singkat.

Kondisi tersebut berdampak pada paparan hormon estrogen dalam tubuh. 

“Misalnya karena menstruasi datang lebih awal dan menopause terjadi lebih lambat maka risiko kanker payudara dapat meningkat. Itu juga salah satu faktor dalam peningkatan tren kanker payudara,” kata dr. Denni.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved