Jangan Tunggu Sakit Kuning, Kemenkes Ungkap Cara Cek Kondiosi Liver Lewat CKG
Gangguan hati termasuk fatty liver atau perlemakan hati dapat berkembang tanpa keluhan yang terasa.
Ringkasan Berita:
- Salah satu tantangan terbesar dalam menemukan penyakit hati atau liver adalah gejalanya yang sering tidak muncul sejak awal.
- Kondisi tersebut membuat masyarakat sering merasa baik-baik saja, padahal di dalam tubuh bisa terjadi perubahan seperti perlemakan hingga fibrosis atau pengerasan jaringan hati.
- Untuk mengetahui risiko tersebut, Kemenkes menggunakan skrining awal dengan metode yang disebut APRI score.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang baru memeriksakan kesehatan ketika tubuh mulai memberikan tanda. Padahal, untuk organ hati, keluhan sering kali muncul saat kondisi sudah lebih serius.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Siti Nadia Tarmizi mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu gejala untuk mengetahui kondisi hati.
Pasalnya, gangguan hati termasuk fatty liver atau perlemakan hati dapat berkembang tanpa keluhan yang terasa.
Hati Bisa Bermasalah Tanpa Gejala
Siti Nadia mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam menemukan penyakit hati adalah gejalanya yang sering tidak muncul sejak awal.
“Penyakit hati itu memang susahnya 85-90 persen tidak bergijalah. Jadi begitu pun perlemakan hati ini,” ujar Siti Nadia dalam diskusi spesial dalam rangka Global Fatty Liver Day yang diselenggarakan oleh Novo Nordisk di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).
Kondisi tersebut membuat masyarakat sering merasa baik-baik saja, padahal di dalam tubuh bisa terjadi perubahan seperti perlemakan hingga fibrosis atau pengerasan jaringan hati.
Baca juga: 7 Tanda Liver Mulai Bermasalah yang Sering Diabaikan, Waspada bagi yang Sering Begadang
Akibatnya, sebagian orang baru mengetahui ada masalah ketika kondisi sudah lebih berat.
“Sehingga sering ketahui dalam kondisi yang sudah cirosis, bahkan sudah tidak terhati,” katanya.
70 Juta Orang Indonesia Memiliki Risiko Gangguan Hati
Berdasarkan data kesehatan yang ada, Siti Nadia menyebut jumlah masyarakat yang memiliki risiko gangguan hati cukup besar.
“Jadi dari orang Indonesia kan memang hasil prevalensi Survei Kesehatan Indonesia (SKI) kita itu bahwa untuk penyakit hati ini angkanya, kalau in may itu sekitar 68 juta ya, 70 juta,” kata Siti Nadia.
Untuk mengetahui risiko tersebut, Kemenkes menggunakan skrining awal dengan metode yang disebut APRI score.
Metode ini digunakan untuk melihat kemungkinan adanya faktor risiko gangguan hati.
“Kalau kita lihat dari screening awal dengan menggunakan kuesioner yang kita sebut sebagai Aspartat Aminotransferase to Platelet Ratio Index (APRI) Score, dan itu memang sudah standar di berbagai dunia, itu 50 persennya adalah dengan orang dengan faktor risiko gangguan hati,” jelasnya.
Risiko tersebut dapat berupa beberapa kondisi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Siti-Nadia-Tarmizi-1-11062026.jpg)