Ramadan 2026
Pasien Diabetes Wajib Tahu! Cara Aman Olahraga dan Tetap Aktif Saat Puasa
Puasa Ramadan aman bagi pasien diabetes asal disiplin sahur, olahraga ringan, dan rutin cek gula darah agar terhindar dari risiko berbahaya.
Ringkasan Berita:
- Puasa Ramadan bukan alasan pasien diabetes berhenti aktif.
- Sahur jadi kunci energi, jangan pernah dilewatkan.
- Cek gula darah rutin, cegah risiko hipoglikemia berbahaya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menjalani puasa Ramadan bagi pasien diabetes bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga keseimbangan tubuh agar tetap aman selama beraktivitas.
Pengaturan olahraga ringan hingga strategi menjalani aktivitas harian menjadi kunci agar puasa tetap sehat.
Dokter spesialis penyakit dalam Helmi Fakhruddin menjelaskan pasien diabetes tetap dianjurkan berolahraga selama puasa, dengan catatan intensitasnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
“Jadi memang disarankan tetap olahraga yang ringan sedang, misal kayak jogging, sepeda, masih boleh, senam. Terus yoga, misal masih boleh juga,” ujarnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, Jumat (13/2/2026).
Olahraga Aman Sesuai Kondisi
Helmi menekankan, untuk pasien diabetes yang sudah memiliki komplikasi seperti nyeri sendi, keterbatasan gerak, atau kondisi frail pada lansia, olahraga perlu dimodifikasi menjadi sangat ringan.
Aktivitas fisik bisa dilakukan sambil duduk atau bahkan di atas tempat tidur, seperti menggerakkan tangan dan kaki secara perlahan.
Ia menegaskan bahwa tidak semua pasien bisa disamaratakan.
Karena itu, konsultasi ke dokter sebelum Ramadan menjadi penting untuk menentukan strategi olahraga dan aktivitas yang tepat sesuai kondisi personal pasien.
Sahur Jadi Kunci Energi Aktivitas
Bagi pasien diabetes usia produktif yang tetap bekerja dan beraktivitas di luar rumah selama puasa, sahur memegang peranan vital sebagai sumber energi.
“Untuk pasien diabetes, jangan sampai telat sahur atau jangan sampai nggak sahur, jadi kuncinya di situ, karena sahur itu menjadi bekal kalori kita atau bekal tenaga kita buat aktivitas seharian sampai berbuka puasa,” jelasnya.
Selain sahur, kepatuhan minum obat juga tidak boleh diabaikan. Helmi mengingatkan bahwa diabetes merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan, termasuk selama Ramadan.
Pasien yang sudah memiliki gula darah terkontrol tetap harus melanjutkan terapi, baik insulin maupun obat minum, dengan penyesuaian waktu pemberian saat puasa.
Baca juga: Pakar UGM Sebut Gejala Awal Virus Nipah Sulit Dikenali: Sekilas Mirip Flu Tapi Risikonya Berat
Rutin Cek Gula Darah Saat Beraktivitas
Pasien diabetes dengan aktivitas harian yang padat disarankan rutin memantau kadar gula darah, terutama saat sahur, tengah hari, dan berbuka.
Pemantauan ini penting untuk mencegah risiko hipoglikemia maupun hiperglikemia selama puasa.
“Bila didapatkan kondisi hasil gula darahnya itu terlalu tinggi, misal di atas 300, atau mungkin saat sangat rendah, misal di bawah 70, itu, baiknya memang dianjurkan untuk membatalkan puasa bulan Ramadan pada hari itu,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/penyakit-diabetes.jpg)