Selasa, 5 Mei 2026

Beban Kanker Indonesia Kian Berat, AI Percepat Identifikasi HER2 dan Skrining Paru

Jumlah kasus kanker diprediksi melonjak lebih dari 70 persen pada 2050. Kondisi tersebut mendorong pemanfaatan teknologi untuk perkuat diagnosis.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi
SKRINING KANKER SERVIKS- Wakil Menteri kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, integrasi ini sebagai upaya mempercepat deteksi dini dan menurunkan angka keterlambatan penanganan kanker serviks. Dante menegaskan, mulai 2026, skrining kanker leher rahim dalam CKG akan disertai dengan tindak lanjut yang jelas bagi hasil skrining positif. 
Ringkasan Berita:
  • Jumlah kasus kanker diperkirakan bisa melonjak lebih dari 70 persen pada 2050. Saat ini, sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus
  • Kondisi tersebut mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperkuat proses diagnosis
  • Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi langkah strategis untuk mendukung tenaga medis dalam mempercepat proses diagnostik dan meningkatkan akurasi interpretasi klinis

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Beban kanker di Indonesia diproyeksikan meningkat tajam dalam beberapa dekade ke depan.

Jika upaya pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat, jumlah kasus kanker disebut bisa melonjak lebih dari 70 persen pada 2050.

Saat ini, sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus. 

Tantangan lain, banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut, sehingga pilihan terapi menjadi lebih terbatas dan kompleksitas pengobatan meningkat.

Baca juga: Semangat Hidup Lubna 4 Kali Operasi Kanker, Tuntaskan Trail Running 9 Jam Lintasi Gunung

Kondisi tersebut mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperkuat proses diagnosis. 

Dalam momentum Hari Kanker Sedunia, AstraZeneca Indonesia bersama Siloam International Hospitals menghadirkan implementasi teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung diagnosis kanker payudara dan skrining kanker paru.

AI untuk Bantu Identifikasi HER2 pada Kanker Payudara

Khusus kanker payudara, data GLOBOCAN mencatat sekitar 65 ribu kasus baru dan lebih dari 22 ribu kematian pada 2020. 

Sebagian kasus berkaitan dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), protein yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker lebih agresif.

Teknologi AI diintegrasikan dalam analisis digital jaringan patologi untuk membantu mengidentifikasi status HER2 hingga ekspresi yang sangat kecil. 

Dengan sistem ini, hasil patologi anatomi dapat diakses secara real-time di jaringan rumah sakit, sehingga memangkas waktu interpretasi dan pengambilan keputusan klinis.

“Melalui implementasi teknologi AI sebagai pendamping tenaga medis, proses identifikasi tipe kanker payudara. Termasuk status HER2 beserta subkategorinya. dapat dilakukan lebih cepat dan akurat,” jelas Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan Subspesialisasi Hematologi Onkologi Medik Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM di Jakarta, Kamis (26/2/2026). 

Dari sisi patologi anatomi, pemanfaatan AI juga dinilai dapat meningkatkan konsistensi penilaian.

“Terapi target anti-HER2, bila diberikan secara tepat, dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, penilaian (scoring) status HER2 harus akurat dan konsisten,” jelas dokter spesialis Patologi Anatomik Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, MSi.Med, Sp.PA pada kesempatan yang sama. 

Ia menyebut, data studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan pemanfaatan AI sebagai pendamping penilaian HER2 dapat meningkatkan deteksi HER2-ultra low serta memperbaiki akurasi dan konsistensi antar-pemeriksa.

Skrining Kanker Paru Lebih Efisien

Selain kanker payudara, kanker paru juga menjadi perhatian. Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kanker paru menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia.

Kanker paru umumnya ditandai dengan nodul atau benjolan yang tumbuh tidak terkendali. 

Namun, tidak semua nodul bersifat ganas. Karena itu, akurasi skrining menjadi krusial agar pasien yang berisiko tinggi dapat segera menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Dalam pemeriksaan foto toraks, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru yang memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan CT scan untuk karakterisasi yang lebih detail,"

Deteksi ini memungkinkan pasien diarahkan lebih cepat dan tepat untuk pemeriksaan lanjutan,” jelas dokter spesialis radiologi dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad. 

Sistem berbasis AI tersebut juga dilengkapi penilaian tervalidasi untuk membedakan nodul berisiko tinggi dan rendah, sehingga membantu dokter dalam proses skrining awal.

AI sebagai Pendamping, Bukan Pengganti Dokter

Peningkatan kasus kanker menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi, terutama dalam memastikan diagnosis yang tepat waktu dan akurat.

“Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi langkah strategis untuk mendukung tenaga medis dalam mempercepat proses diagnostik, meningkatkan akurasi interpretasi klinis, serta memperkuat pengambilan keputusan berbasis data,” kata dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.

Teknologi AI dalam konteks ini diposisikan sebagai pendamping tenaga medis, bukan pengganti. 

Keputusan klinis tetap berada di tangan dokter yang mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.

Dengan beban kanker yang terus meningkat, penguatan skrining dan diagnosis menjadi kunci. 

Teknologi mungkin bukan jawaban tunggal, tetapi bisa menjadi alat bantu penting agar lebih banyak pasien mendapatkan penanganan lebih cepat sebelum penyakit berkembang ke stadium lanjut.
 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved