Cerita dari Pasien Jantung di RSUD Kota Bima, Antara Sesak dan Harapan
Di tengah keterbatasan fasilitas, pasien jantung di RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tetap menggantungkan harapan untuk sembuh.
Ia menilai respons perawat cukup cepat dan komunikasi dokter mudah dipahami.
Meski begitu, Riza berharap ke depan edukasi kepada pasien bisa ditingkatkan, fasilitas pemeriksaan lebih memadai, serta proses rawat jalan bisa lebih mudah.
Ruang Rawat Jauh dari Ideal
Ruang rawat inap pasien jantung di rumah sakit ini diisi empat tempat tidur dalam satu ruangan serta dilengkapi satu kamar mandi.
Jarak antar tempat tidur dipisahkan tirai dengan kondisi fisik ruangan terlihat memprihatinkan.
Dinding mulai dipenuhi bercak lembab dan jamur yang menghitam di beberapa sudut.
Cat berwarna putih juga mulai mengelupas menandakan usia bangunan yang sudah tua.
Sirkulasi udara juga kurang optimal karena pendingin ruangan tidak dapat digunakan, membuat ruangan terasa redup dan kurang nyaman bagi pemulihan pasien yang membutuhkan ketenangan.
Setiap Minggu Rujuk Dua Kasus Jantung ke Provinsi NTB
Direktur RSUD Kota Bima, Fathurrahman, mengakui bahwa kebutuhan layanan kanker, jantung, stroke, ginjal atau urologi (KJSU) serta kesehatan ibu dan anak (KIA) menjadi kebutuhan mendesak di kota Bima.
Perjalanan rujukan ke provinsi memakan waktu belasan jam menggunakan jalur darat dan harus harus melewati laut. Dalam kondisi darurat, perjalanan 14-16 jam ini berisiko tinggi bagi pasien.
“Hampir setiap minggu kami merujuk kasus-kasus KJSU. Mungkin seminggu dua kasus kami rujuk ke Mataram. Kadang-kadang pasien kritis tidak selamat di jalan,” ungkapnya.
Di rumah sakit baru, layanan KJSU akan dikembangkan secara serius dengan dilengkapi alat modern yang canggih.
Seperti cath lab untuk tindakan jantung seperti pemasangan ring, hemodialisa untuk pasien ginjal (uro-nefro), penguatan layanan stroke dengan CT scan, layanan kanker termasuk penanganan sitotoksik serta fokus kesehatan ibu dan anak misalnya kasus melahirkan dengan penyulit.
Dari sisi sumber daya manusia, dr Fathur mengatakan, rumah sakit telah memiliki tenaga medis mendekati standar tipe C.
“Tapi kami belum ada dokter spesialis THT dan dokter Anestesi yang masih berstatus kontrak. Kami ingin dokter yang sudah menjadi ASN,” harap dia.
Upaya memenuhi SDM, Manajemen juga mendorong dokter ASN untuk melanjutkan pendidikan guna memperkuat layanan spesialistik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pasien-jantung-bima.jpg)