Selasa, 7 April 2026

Cerita dari Pasien Jantung di RSUD Kota Bima, Antara Sesak dan Harapan

Di tengah keterbatasan fasilitas, pasien jantung di RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tetap menggantungkan harapan untuk sembuh.

Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
PASIEN JANTUNG - Di tengah keterbatasan fasilitas, pasien jantung di RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tetap menggantungkan harapan untuk sembuh, seperti yang disampaikan Riza saat ditemui Jumat (27/2). Sejak Mei 2025, RSUD Kota Bima dibangun ulang agar bisa naik tingkat dari tipe D ke tipe C. Pembangunan RSUD Kota Bima memasuki tahap finishing dan siap beroperasi penuh pada Agustus 2026. 

 

Ringkasan Berita:
  • Pasien jantung di RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat tetap menggantungkan harapan untuk sembuh.
  • Harapan ini muncul di tengah keterbatasan fasilitas Rumah Sakit.

 

 


TRIBUNNEWS.COM, BIMA --Di tengah keterbatasan fasilitas, pasien jantung di RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tetap menggantungkan harapan untuk sembuh.

Sejak Mei 2025, RSUD Kota Bima dibangun ulang agar bisa naik tingkat dari tipe D ke tipe C.

Pembangunan RSUD Kota Bima merupakan bagian dari Program Quick Win Presiden Prabowo Subianto, guna memastikan 66 kabupaten/kota yang belum memiliki rumah sakit tipe C segera terpenuhi.

Baca juga: RSUD Kota Bima Naik Jadi Tipe C, Menkes: Bisa Pangkas Rujukan Pasien ke Luar Daerah

Anggita (27) telah sepekan dirawat akibat gangguan jantung disertai penumpukan cairan, sesak napas, gangguan irama jantung, dan anemia.

“Saat masuk ICU, Alhamdulillah membaik. Sesak nafasnya berkurang,” kata dia saat berbincang di ruang rawatnya pada Jumat (27/2/2025).

Kini kondisinya sudah berangsur-angsur stabil, meski jika hendak duduk, sesak nafas itu muncul lagi.

Anggita juga mengeluhkan rasa sakit pada bagian panggul karena terlalu lama berbaring dan berharap ada tambahan layanan fisioterapi untuk membantu pemulihan.

Pasien lain Riza (24), warga Kota Bima, sudah berhari-hari dirawat akibat gangguan irama jantung.

Namun hingga kini, Riza belum mengetahui secara pasti nama maupun penyebab penyakitnya.

Ia mengaku belum mendapat edukasi yang jelas dari dokter, ditambah keterbatasan alat medis untuk mendeteksi atau mendiagnosa kondisinya secara menyeluruh.

Gangguan itu pertama kali muncul lima tahun lalu saat ia berolahraga dan tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar kencang.

“Seringnya rawat jalan saja dan baru ini saya harus dirawat inap selama tiga hari. Diawali masuk IGD. Dalam perawatan, ia dipasangi monitor jantung dan mendapatkan bantuan oksigen,” kata dia.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved