Sabtu, 11 April 2026

Ramadan 2026

Batas Aman Gula Darah agar Diabetesi yang Berpuasa Tak Berujung Darurat

Bagi diabetesi, puasa tak hanya menahan lapar dan haus. Ini soal menjaga keseimbangan gula darah agar tidak jatuh terlalu rendah atau melonjak .

Shutterstock
Bagi diabetesi, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ini soal menjaga keseimbangan gula darah agar tidak jatuh terlalu rendah atau melonjak drastis. 

“Segera batalkan puasa jika gula darah berada di bawah 70 mg/dL atau melonjak di atas 300 mg/dL. Nyawa dan kesehatan adalah prioritas utama dalam beribadah,"imbuhnya. 

Pesan ini penting. Banyak pasien menunda berbuka karena merasa “sayang” membatalkan puasa, padahal tubuh sudah memberi sinyal bahaya.

Siapa yang Perlu Penilaian Khusus?

Tidak semua diabetesi boleh langsung berpuasa.

Pasien dengan risiko sangat tinggi seperti diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol, gagal ginjal, atau sedang hamil memerlukan evaluasi ketat dari dokter.

Karena itu, check-up 2–4 minggu sebelum Ramadan sangat dianjurkan. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai apakah kondisi metabolik cukup stabil untuk menjalani puasa.

Pantau Mandiri, Jangan Menebak-nebak

Alat cek gula darah
Alat cek gula darah ()

Salah satu kesalahan paling umum adalah enggan cek gula darah karena takut membatalkan puasa.

Padahal tes darah jari tidak membatalkan puasa menurut fatwa medis dan agama.

Pengecekan ideal dilakukan pagi, siang, dan sore. Dengan begitu, diabetesi bisa mengambil keputusan berbuka secara tepat waktu jika diperlukan.

Bagi penyandang diabetes, puasa bukan soal kuat atau tidak kuat. Ini soal strategi.

Dengan pengawasan medis, pemantauan rutin, serta disiplin mengenali tanda bahaya, puasa tetap bisa dijalani tanpa mengorbankan keselamatan.

Ramadan seharusnya membawa ketenangan, bukan risiko darurat.

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved