Iran Vs Amerika Memanas
Timur Tengah Memanas, UNICEF: Lebih dari 1.100 Anak Dilaporkan Terluka, Tewas danJutaan Tak Sekolah
United Nations Children's Fund (UNICEF) atau Badan Dana Anak PBB menyatakan lebih dari 1.000 anak dilaporkan terluka atau tewas di Timur Tengah.
Ringkasan Berita:
- UNICEF menyatakan konflik yang semakin intensif di Timur Tengah membuat situasi menjadi bencana bagi jutaan anak di seluruh wilayah tersebut.
- Badan Dana Anak PBB menyatakan lebih dari 1.000 anak dilaporkan terluka atau tewas di Timur Tengah sejak 28 Februari 2026.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - United Nations Children's Fund (UNICEF) atau Badan Dana Anak PBB menyatakan lebih dari 1.000 anak dilaporkan terluka atau tewas di Timur Tengah sejak 28 Februari 2026.
Sebagaimana diketahui, militer Amerika Serikat (AS) - Israel melakukan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamanei serta sejumlah jenderal militer Iran.
Baca juga: UNICEF: Hampir 200 Anak Tewas akibat Serangan AS-Israel, Iran Laporkan Jumlah Korban Terbanyak
Sejak saat itu, militer Iran melakukan serangan balasan ke sejumlah pangkalan AS di negara-negara Teluk serta wilayah pendudukan Israel.
Perang tersebut kemudian meluas hingga Lebanon hingga hari ini Kamis (12/3/2026).
Merespons itu, UNICEF menyatakan konflik yang semakin intensif di Timur Tengah membuat situasi menjadi bencana bagi jutaan anak di seluruh wilayah tersebut.
"Sejak 28 Februari, lebih dari 1.100 anak dilaporkan terluka atau tewas dalam kekerasan tersebut. Ini termasuk 200 anak yang dilaporkan tewas di Iran, 91 di Lebanon, empat di Israel, dan satu di Kuwait," tulis UNICEF di laman resminya pada Rabu (11/3/2026).
"Angka-angka ini kemungkinan akan meningkat seiring dengan meningkatnya dan meluasnya kekerasan," lanjut UNICEF.
Jutaan Anak Tak Sekolah
UNICEF juga menyatakan gangguan yang meluas terhadap pendidikan telah menyebabkan jutaan anak di seluruh wilayah tersebut tidak bersekolah.
Selain itu ratusan ribu anak juga telah mengungsi akibat pemboman yang tak henti-hentinya.
UNICEF menyatakan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, dan sistem air dan sanitasi yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk bertahan hidup telah diserang, dirusak, atau dihancurkan oleh pihak-pihak yang bertikai.
Menurut UNICEF tidak ada yang dapat membenarkan pembunuhan dan penganiayaan terhadap anak-anak, atau penghancuran dan gangguan terhadap layanan penting yang dibutuhkan anak-anak.
"Pelanggaran berat terhadap anak-anak dalam konflik bersenjata dapat merupakan pelanggaran hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia internasional," tulis UNICEF.
UNICEF juga menekankan seruan Sekretaris Jenderal kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik untuk mengakhiri pertempuran dan terlibat dalam negosiasi diplomatik.
UNICEF juga menyerukan pihak-pihak yang terlibat untuk mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan dalam pemilihan cara dan metode peperangan untuk meminimalkan kerugian bagi warga sipil.
Tindakan itu termasuk dengan menghindari penggunaan senjata peledak yang secara tidak proporsional berdampak pada anak-anak.
"Anak-anak di kawasan ini yang berjumlah 200 juta mengandalkan dunia untuk bertindak cepat," pungkas UNICEF.