Selasa, 5 Mei 2026

Tak Hanya Reproduksi, Perubahan Hormon Perempuan Juga Berdampak pada Kulit dan Rambut

Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang sangat responsif terhadap perubahan fisiologis dan hormonal sepanjang kehidupan perempuan.

Tayang:
Tribunnews.com/M Alivio Mubarak Junior
HORMON DAN PEREMPUAN - dr. Maria Clarissa Wiraputranto, Sp.D.V.E, Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi dan Estetika YPK Mandiri ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026). Menurutnya, fluktuasi hormon yang terjadi pada setiap fase kehidupan perempuan dapat memunculkan berbagai kondisi kulit yang berbeda. 

Ringkasan Berita:
  • Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia yang sangat peka terhadap berbagai perubahan fisiologis maupun hormonal yang dialami perempuan
  • Kulit memiliki sejumlah reseptor hormon, seperti estrogen, progesteron, dan androgen. Karena itu, perubahan kadar hormon dapat berdampak langsung pada kondisi kulit, rambut, hingga jaringan di sekitarnya
  • Fluktuasi hormon yang terjadi pada setiap fase kehidupan perempuan dapat memunculkan berbagai kondisi kulit yang berbeda

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Permasalahan kesehatan yang dialami perempuan kerap bersifat kompleks dan melibatkan banyak aspek. 

Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan fungsi organ reproduksi, tetapi juga menyentuh kesehatan fisik, psikologis, hingga kualitas hidup secara menyeluruh.

Sepanjang perjalanan hidupnya, perempuan menghadapi berbagai perubahan pada tubuh. 

Perubahan tersebut dapat terjadi setelah melahirkan, gangguan pada fungsi intim, nyeri kronis di area panggul, hingga fluktuasi hormon yang turut memengaruhi kesehatan mental serta tingkat kepercayaan diri.

Namun demikian, sejumlah kondisi tersebut masih belum tertangani secara maksimal. 

Baca juga: Faktor Genetik, Stres hingga Perubahan Hormon Picu Kerontokan Rambut

Hal ini disebabkan oleh keterbatasan layanan kesehatan yang terintegrasi, serta adanya stigma dan rasa tabu yang membuat sebagian perempuan enggan menyampaikan keluhan yang bersifat pribadi.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika YPK Mandiri, dr. Maria Clarissa Wiraputranto, Sp.D.V.E, menjelaskan kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia yang sangat peka terhadap berbagai perubahan fisiologis maupun hormonal yang dialami perempuan.

"Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang sangat responsif terhadap perubahan fisiologis dan hormonal sepanjang kehidupan perempuan," dr. Maria di acara peresmian Aesthetic Gynecology Center Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).

Ia menerangkan kulit memiliki sejumlah reseptor hormon, seperti estrogen, progesteron, dan androgen. 

Karena itu, perubahan kadar hormon dapat berdampak langsung pada kondisi kulit, rambut, hingga jaringan di sekitarnya.

Menurutnya, fluktuasi hormon yang terjadi pada setiap fase kehidupan perempuan dapat memunculkan berbagai kondisi kulit yang berbeda. 

Menjelang masa menstruasi, misalnya, peningkatan hormon progesteron dan androgen dapat memicu produksi minyak berlebih sehingga kulit menjadi lebih berminyak dan mudah berjerawat.

Sementara itu, pada masa kehamilan, peningkatan hormon juga dapat menimbulkan hiperpigmentasi, seperti munculnya melasma atau garis gelap pada perut yang dikenal sebagai linea nigra. 

Pada perempuan yang mengalami sindrom ovarium polikistik (PCOS), tingginya kadar androgen dapat menyebabkan jerawat yang menetap, kulit lebih berminyak, hingga pertumbuhan rambut berlebih.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved