Jumat, 24 April 2026

Wabah Campak

Dulu Dianggap Remeh, Mengapa Kini Campak Menulari Orang Dewasa hingga Berujung Kematian?

Campak tak hanya menulari anak-anak tapi juga orang dewasa, bahkan berujung kematian. Mengapa bisa terjadi?

|
Penulis: Anita K Wardhani
HO/IST/ho/IST
 PENYAKIT CAMPAK -  Meningkatnya mobilitas masyarakat saat momen hari raya berpotensi meningkatkan penularan penyakit menular, salah satunya Campak.Aktivitas silaturahmi, perjalanan antar daerah, hingga kerumunan membuat virus lebih mudah menyebar, terutama pada individu yang belum memiliki kekebalan Kementerian Kesehatan menyebut korban diduga terpapar virus saat bertugas menangani pasien di rumah sakit. Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes, dr. Andi Saguni, dalam jumpa pers daring di Jakarta, Senin (30/3). “Yang bersangkutan diduga terpapar saat menangani pasien campak pada 8 Maret 2026,” ujar Andi. Kemenkes pun mengungkapkan kronologi meninggalnya dokter muda tersebut. AMW diduga terpapar saat menangani pasien campak pada 18 Maret 2026, namun tetap bertugas meski telah bergejala demam sejak 18 Maret. Gejala awalnya berupa demam, flu, dan batuk. Meski telah diberikan izin sakit pada 19 hingga 21 Maret, AMW tetap memilih untuk bertugas dan sempat menangani empat pasien suspek campak. Kondisinya memburuk dengan munculnya ruam pada 21 Maret, hingga akhirnya mengalami penurunan kesadaran dan tidak tertolong setelah dirawat di ICU RS Cimacan. Pada periode 22 hingga 25 Maret 2026, kondisi kesehatannya belum membaik dan ia kembali mendapatkan izin untuk beristirahat serta menjalani perawatan mandiri di rumah. Namun pada 25 Maret 2026, kondisi korban memburuk dengan penurunan kesadaran sehingga harus dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU RS Cimacan, Cianjur, Jawa Barat. AMW meninggal dunia pada 26 Maret 2026 pada pukul 11.30 WIB dengan diagnosa akhir campak dengan gangguan jantung dan otak. Kasus ini telah terkonfirmasi positif campak melalui pemeriksaan laboratorium Bio Farma pada 28 Maret 2026. “Menanggapi kasus yang menimpa dokter internship, Kemenkes berkomitmen memberikan vaksinasi campak bagi seluruh peserta program internship. Kami juga mewajibkan wahana penempatan untuk memastikan ketersediaan APD serta mengatur beban kerja dan hak istirahat yang cukup bagi nakes yang menangani penyakit menular,” tegas dr. Andi. Kemenkes mengingatkan, jika muncul gejala sekecil apa pun, segera melapor, beristirahat penuh, dan tidak memaksakan diri untuk bertugas. Kemenkes mengimbau masyarakat dan tenaga kesehatan yang belum divaksinasi untuk segera melengkapi status imunisasi guna memutus rantai penularan. 

Ringkasan Berita:
  • Campak tak hanya menulari anak-anak tapi juga orang dewasa, bahkan berujung kematian. 
  • Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) alasan penyakit campak banyak ditemui pada orang dewasa.
  • PAPDI menyoroti rendahnya kesadaran vaksinasi pada orang dewasa yang dinilai memicu risiko penyebaran campak.

 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Wabah campak tak hanya menulari anak-anak. Penyakit ini sudah menjangkit pada kaum dewasa hingga berujung kematian. 

Baru-baru ini, seorang dokter internship AMW (25) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, meninggal dunia akibat komplikasi campak pada jantung dan otak.

Baca juga: Dokter Muda di Cianjur Meninggal Diduga Campak, Pakar: Ada Risiko Fatal Jarang Disadari Dewasa

Mengapa bisa terjadi demikian? 


Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyoroti rendahnya kesadaran vaksinasi pada orang dewasa yang dinilai memicu risiko penyebaran campak.

Kondisi ini memicu kewaspadaan karena campak sering dianggap sebagai penyakit anak-anak.

Ketua PAPDI.Eka Ginanjar, menegaskan, masyarakat tidak boleh lengah terhadap ancaman penyakit menular yang berpotensi meluas ini.

“Kasus yang terjadi saat ini mengarah pada dugaan campak. Ini menjadi alarm bagi semua untuk lebih waspada,” ujarnya dalam kegiatan PAPDI Forum di Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026).

Campak Masih Diabiakan, Dianggap Penyakit Ringan 

PAPDI menilai rendahnya kesadaran dalam pencegahan dan keterlambatan penanganan memperburuk situasi penularan campak. 

Masyarakat masih menganggap campak merupakan penyakit ringan, sehingga pengobatan ditunda.

Baca juga: Kasus Campak Turun 93 Persen, Kemenkes Ungkap Data Terbaru dan Perluas Vaksinasi

"Padahal campak berisiko menularkan ke keluarga dan lingkungan sekitar, bukan hanya membahayakan individur," tutur dia.

Ditambahkan Dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi, Dr. dr. Adityo Susilo, campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi.

Virusnya dapat menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin, bahkan dapat bertahan di udara hingga dua jam.

“Penularannya tidak hanya lewat kontak langsung, tetapi juga bisa melalui udara. Ini yang membuat campak sangat mudah menyebar,” jelasnya.

Alasan Mengapa Campak Kini Banyak Diderita Orang Dewasa

CAMPAK - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Eka Ginanjar, Dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi, Dr. dr. Adityo Susilo serta Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI Dr dr Sukamto Koesnoe dalam kegiatan PAPDI Forum di Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026).
CAMPAK - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Eka Ginanjar, Dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi, Dr. dr. Adityo Susilo serta Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI Dr dr Sukamto Koesnoe dalam kegiatan PAPDI Forum di Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026). (Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini)

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI Dr dr Sukamto Koesnoe mengungkapkan, alasan penyakit campak kini banyak ditemui pada orang dewasa.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved