Anak Susah Fokus dan Mudah Lupa? Kurang Protein Bisa Jadi Penyebab
Anak yang sulit fokus, mudah lupa dan kurang bersemangat bukan sekadar masalah kebiasaan. Ada indikasi kekurangan protein.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Anak yang sulit fokus, mudah lupa dan kurang bersemangat bukan sekadar masalah kebiasaan.
- Bisa jadi ada masalah gizi yang belum disadari, terutama kekurangan protein dan zat besi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anak yang sulit fokus, mudah lupa, atau tampak kurang bersemangat saat belajar sering dianggap sebagai masalah perilaku atau kebiasaan.
Namun, di balik itu, bisa jadi ada masalah gizi yang belum disadari, terutama kekurangan protein dan zat besi.
Baca juga: Penampakan Lantai 3 Rumah Inara Rusli yang Diduga Tempat Bermesraan dengan Insan, Ruang Anak Belajar
President of Indonesian Nutrition Association sekaligus dokter klinik gizi senior Dr. dr. Luciana Budiati Sutanto, MS, Sp.GK, Subsp.PK menjelaskan bahwa perkembangan otak anak sangat bergantung pada kecukupan nutrisi.
Otak Tidak Bisa Berkembang Sendiri
Banyak orang tua fokus pada stimulasi belajar, tetapi lupa bahwa otak membutuhkan “bahan bakar” agar bisa berkembang dengan baik.
Jika tubuh kekurangan nutrisi, maka kemampuan otak juga akan terhambat.
“Kalau tubuhnya tidak cukup, otaknya juga tidak berkembang,” ujarnya pada konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026).
Hal ini menjelaskan mengapa anak dengan gizi kurang sering mengalami kesulitan belajar, lambat memahami pelajaran, hingga mudah lupa.
Peran Penting Protein dalam Tumbuh Kembang
Protein menjadi salah satu nutrisi utama yang sangat dibutuhkan anak, terutama dalam masa pertumbuhan.
Protein terdiri dari asam amino yang berfungsi sebagai bahan dasar pembentukan jaringan tubuh, termasuk otak.
Namun, tidak semua protein sama
Sumber protein hewani seperti telur, ikan, dan daging memiliki kandungan asam amino yang lebih lengkap dibandingkan protein nabati.
Meski begitu, keduanya tetap penting dan harus dikombinasikan dalam pola makan sehari-hari.
Harus Seimbang
dr. Luciana mengingatkan bahwa protein tidak akan bekerja optimal jika tidak didukung oleh asupan kalori yang cukup.
Jika kalori kurang, protein justru akan digunakan sebagai sumber energi, bukan untuk membangun jaringan tubuh.
“Jadi, kalau protein tidak didukung kalori, dia tidak bisa bermanfaat sebagai protein. Malah akan dihancurkan sebagai kalori,” jelasnya.
Artinya, anak tidak hanya perlu makan makanan tinggi protein, tetapi juga harus mendapatkan asupan energi yang cukup dari karbohidrat dan lemak.
Dampak Serius Jika Dibiarkan
Kekurangan protein dan zat besi bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan imunitas, hingga masalah perkembangan otak.
Anak menjadi lebih mudah sakit, dan ketika sering sakit, kondisi ini semakin memperburuk status gizinya.
Akibatnya, anak tidak hanya sulit tumbuh secara fisik, tetapi juga mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif.
Solusi Sederhana
Untuk mencegah kondisi ini, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan makanan yang beragam dan seimbang.
Sumber protein bisa berasal dari telur, ikan, ayam, tahu, tempe, hingga kacang-kacangan.
Sementara zat besi bisa didapat dari makanan hewani dan nabati, yang sebaiknya dikombinasikan dengan vitamin C agar penyerapannya lebih optimal.
Pola makan sederhana seperti sarapan telur, makan siang ayam, dan makan malam ikan atau tempe sudah bisa menjadi langkah awal yang baik.
Pada akhirnya, kunci utama tumbuh kembang anak bukan pada satu jenis makanan, tetapi pada keseimbangan nutrisi secara keseluruhan.
Gizi seimbang menjadi fondasi penting agar anak bisa tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki daya tahan tubuh yang baik.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk lebih peka terhadap pola makan anak, bukan hanya saat anak sakit, tetapi sejak dini sebagai investasi masa depan mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-anak-belajar-15102020.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.