Kamis, 16 April 2026

Detect Me, Saat Teknologi Mengajak Suami 'Ikut Hamil' dan Selamatkan Nyawa Ibu

Selama puluhan tahun, angka kematian ibu di Indonesia adalah statistik yang menyakitkan. 

Editor: Dodi Esvandi
HO/IST
Associate Professor dari Universitas Padjadjaran, Restuning Widiasih, mengungkapkan bahwa selama ini sistem kesehatan membuat ibu hamil menjadi subjek pasif yang hanya menunggu dilayani. Hal itu diungkapkannya dalam sebuah forum di Jakarta, Rabu (15/4/2026). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama puluhan tahun, angka kematian ibu di Indonesia adalah statistik yang menyakitkan. 

Dengan 140 kematian per 100 ribu kelahiran hidup, Indonesia masih berjuang di papan atas daftar angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara. 

Seringkali, nyawa melayang bukan karena penyakit yang tak terobati, melainkan karena keterlambatan.

Kini, sebuah kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia bernama proyek ULTRALIGHT menghadirkan Detect Me, sebuah perangkat yang ingin memindahkan garis depan keselamatan ibu hamil dari puskesmas langsung ke ruang tamu rumah.

Detect Me bukan sekadar alat medis. 

Ia adalah perangkat pemantauan janin mandiri yang terhubung langsung ke aplikasi ponsel dan platform web tenaga kesehatan secara real-time.

Namun, tantangan terbesarnya ternyata bukan pada kabel atau sensor, melainkan budaya. 
Associate Professor dari Universitas Padjadjaran, Restuning Widiasih, mengungkapkan bahwa selama ini sistem kesehatan membuat ibu hamil menjadi subjek pasif yang hanya menunggu dilayani.

"Ibu hamil biasanya tinggal tidur dan menunggu diperiksa. Sekarang mereka diminta memakai alat sendiri. Ada rasa takut dan canggung yang harus kita dobrak melalui pendekatan personal," ujar Restuning dalam gelaran IDE Katadata Future Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: Denada Menangis Bantah Buang Ressa, Ungkap Momen Takut, Pilih Sembunyikan Kehamilan di Umur 20 Tahun

Suami yang 'Siaga'

Menariknya, inovasi ini memicu perubahan sosial di tingkat keluarga. 

Saat alat ini dibawa pulang, para suami yang biasanya menjaga jarak dari urusan kehamilan mendadak menjadi proaktif.

  • Keterlibatan Aktif: Suami membantu memasang alat dan memantau data.
  • Literasi Kesehatan: Para ayah mulai bertanya-tanya tentang detak jantung dan kondisi janin.
  • Dukungan Psikologis: Ibu tidak lagi merasa berjuang sendirian dalam kehamilannya.

Ketua Umum HIPELKI, Randy Teguh, mengingatkan bahwa Indonesia pernah kehilangan inovasi serupa pada 2014 karena hak kekayaan intelektualnya dibeli pihak asing. 

Namun, ia optimis bahwa momentum tahun 2026 ini berbeda.

"Pemerintah kini jauh lebih serius. Inovasi ini sangat efisien untuk pasar pemerintah, namun tantangannya adalah memastikan ia tidak hanya menjadi proyek percontohan, tapi benar-benar masuk ke sistem kesehatan nasional," kata Randy.

Dari Alat Menjadi 'Chip'

Visi tim ULTRALIGHT—yang melibatkan Unpad, ITB, Telkom University, hingga University of Newcastle Australia—adalah mengecilkan perangkat ini hingga seukuran chip. 

Sesuai namanya, mereka ingin teknologi ini menjadi ultralight:

  • Ringan di Tubuh: Nyaman digunakan kapan saja.
  • Ringan di Pikiran: Menghilangkan kecemasan ibu karena dipantau bidan 24/7 secara otomatis.
  • Berat di Dampak: Menekan angka kematian secara signifikan di daerah pelosok seperti NTT dan Maluku.
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved