Sabtu, 9 Mei 2026

Mitos dan Fakta Tentang Diabetes, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Endokrin yang Perlu Dipahami

Pemahaman yang benar mengenai diabetes jadi kunci penting dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit ini. Penyakit kronis yang butuhkan pemahaman utuh.

Tayang: | Diperbarui:
Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
MITOS DIABETES - Dalam sebuah kegiatan bersama Kalbe Farma di Jakarta, Jumat (17/4/2026), Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof Em Yunir(kiri) meluruskan berbagai mitos umum tentang diabetes. 
Ringkasan Berita:
  • Pola makan tidak sehat, kelebihan asupan kalori, kurang aktivitas fisik, hingga obesitas menjadi faktor yang paling menentukan
  • Pemahaman yang benar mengenai diabetes menjadi kunci penting dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit ini
  • Kopi tanpa gula justru disebut memiliki manfaat proteksi terhadap kesehatan jantung, sehingga masih dapat menjadi pilihan bagi penderita diabetes.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah meningkatnya jumlah penyandang diabetes di Indonesia yang kini telah mencapai 20,4 juta orang pada 2024 menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia berbagai mitos seputar penyakit ini masih beredar luas di masyarakat, kerap memicu kesalahpahaman, ketakutan, hingga keputusan yang keliru dalam penanganannya. Padahal, diabetes bukan sekadar soal kadar gula darah, melainkan penyakit kronis yang membutuhkan pemahaman utuh, disiplin, dan perubahan gaya hidup jangka panjang.

Baca juga: Diabetes Diam-diam Picu Kerusakan Mata, Dokter Ungkap Tanda Awal hingga Risiko Kebutaan

Dalam sebuah kegiatan di Jakarta, Jumat (17/4/2026), Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof Em Yunir, menegaskan pentingnya meluruskan berbagai anggapan yang keliru tersebut agar masyarakat tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan.

Salah satu mitos yang paling sering ditemui di ruang praktik adalah anggapan bahwa obat diabetes dapat merusak ginjal dan memicu komplikasi. Menurut Prof Yunir, pandangan ini tidak tepat. Diabetes merupakan penyakit kronis yang umumnya berlangsung seumur hidup, sehingga tujuan pengobatan bukanlah menyembuhkan secara instan, melainkan menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Ia menjelaskan bahwa komplikasi bukan disebabkan oleh obat, melainkan oleh kondisi diabetes yang tidak terkontrol. Dengan pola makan yang sesuai kebutuhan kalori, menjaga berat badan ideal, serta konsistensi menjalani gaya hidup sehat, kondisi pasien dapat dikendalikan dengan baik, bahkan dalam beberapa kasus bisa kembali mendekati normal—meski tetap membutuhkan disiplin jangka panjang.

Mitos lain yang tak kalah populer adalah anggapan bahwa diabetes hanya dialami oleh orang dengan obesitas. Prof Yunir mengakui bahwa kelebihan berat badan memang menjadi salah satu faktor risiko utama karena dapat memicu resistensi insulin melalui proses inflamasi. Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua penderita diabetes mengalami obesitas, sehingga faktor ini bukan satu-satunya penentu.

Perubahan pola hidup modern juga turut menggeser profil usia penderita diabetes. Jika dulu penyakit ini identik dengan usia di atas 50 tahun, kini kasus pada usia muda bahkan anak-anak mulai banyak ditemukan. Menurut Prof Yunir, peningkatan ini erat kaitannya dengan pola makan tidak sehat, minimnya aktivitas fisik, serta gaya hidup sedentari yang semakin umum.

Sementara itu, anggapan bahwa penderita diabetes sama sekali tidak boleh mengonsumsi gula juga dinilai sebagai mitos. Ia menjelaskan bahwa konsumsi gula masih diperbolehkan dalam jumlah terbatas, misalnya sekitar satu sendok teh, serta dapat digantikan dengan pemanis rendah kalori. Namun, ia mengingatkan agar pasien menghindari minuman manis dengan kandungan gula tinggi seperti teh manis, kopi manis, dan minuman kemasan.

Menariknya, kopi tanpa gula justru disebut memiliki manfaat proteksi terhadap kesehatan jantung, sehingga masih dapat menjadi pilihan bagi penderita diabetes.

Baca juga: Cerita Lilla Syifa Pernah Koma karena Diabetes di Usia 29 Tahun, Pemicunya Gaya Hidup Buruk

Di sisi lain, faktor genetik memang berperan dalam meningkatkan risiko diabetes. Seseorang dengan riwayat keluarga diabetes memiliki peluang lebih besar untuk mengalami kondisi serupa, terlebih jika kedua orang tua mengidap penyakit tersebut. Kendati demikian, Prof Yunir menekankan bahwa faktor genetik bukanlah penentu mutlak.

“Memiliki gen diabetes memang meningkatkan risiko, tetapi gaya hidup tetap menjadi pemicu utama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pola makan tidak sehat, kelebihan asupan kalori, kurang aktivitas fisik, hingga obesitas menjadi faktor yang paling menentukan apakah seseorang akhirnya mengembangkan diabetes atau tidak.

Dengan demikian, pemahaman yang benar mengenai diabetes menjadi kunci penting dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit ini. Di tengah tingginya angka kasus di Indonesia, edukasi yang tepat diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih waspada sekaligus mengambil langkah hidup sehat secara konsisten.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved