Sabtu, 2 Mei 2026

Cara Menghindari Facelift Gagal, Ini Pesan Dokter Bedah Plastik

Dalam setiap tindakan estetika, penting menyamakan persepsi mengenai ekspektasi pasien serta memahami batasan medis dari prosedur yang dilakukan.

Tayang:
aliciaxamira/Instagram
Foto Alicia Almira sebelum operasi plastik (kiri) dan setelah operasi plastik (kanan). - Alicia Almira, wanita asal Swedia yang menghabiskan hampir $127.280 untuk operasi plastik selama 10 tahun terakhir untuk menjadi seperti boneka Barbie di kehidupan nyata. 
Ringkasan Berita:
  • Facelift merupakan prosedur bedah estetik, yang bertujuan mengembalikan struktur jaringan lunak wajah yang telah mengendur
  • Jika dilakukan dengan teknik yang tepat, prosedur ini dapat memperbaiki tanda-tanda penuaan, seperti pipi turun dan garis rahang yang tidak tegas, dengan hasil yang relatif tahan lama
  • Banyak kasus yang dianggap gagal sebenarnya bermula dari miskomunikasi antara dokter dan pasien

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tindakan operasi facelift menjadi salah satu prosedur estetika yang kian diminati untuk memperbaiki tampilan wajah sekaligus mengurangi tanda-tanda penuaan.

Facelift merupakan prosedur bedah estetik, yang bertujuan mengembalikan struktur jaringan lunak wajah yang telah mengendur. Jika dilakukan dengan teknik yang tepat, prosedur ini dapat memperbaiki tanda-tanda penuaan, seperti pipi turun dan garis rahang yang tidak tegas, dengan hasil yang relatif tahan lama.

Namun, di balik meningkatnya minat masyarakat, masih banyak kasus ketidakpuasan yang kerap dianggap sebagai “facelift gagal”.

Baca juga: Bantah Percantik Diri karena Cerai, Asri Welas Ungkap Alasan Operasi Plastik, Singgung Konsekuensi

Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika, Puti Adla Runisa menegaskan bahwa istilah “gagal” dalam prosedur facelift sering kali merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor.

Menurut lulusan Universitas Indonesia ini, banyak kasus yang dianggap gagal sebenarnya bermula dari miskomunikasi antara dokter dan pasien.

“Dalam setiap tindakan estetika, penting untuk menyamakan persepsi mengenai ekspektasi pasien serta memahami batasan medis dari prosedur yang dilakukan,” ujarnya saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (1/5).

Ia menjelaskan, pasien perlu memahami secara logis proses yang akan dijalani, termasuk tahapan penyembuhan, kemungkinan komplikasi, serta risiko yang dapat terjadi.

Komunikasi yang baik menjadi kunci utama dalam tindakan medis.

“Kalau komunikasi tidak jelas, pasien bisa merasa hasilnya gagal, padahal secara medis tindakan sudah sesuai. Karena itu, komunikasi antara dokter dan pasien harus dibangun sejak awal,” jelasnya.

Selain faktor komunikasi, masalah lain yang kerap terjadi adalah tindakan facelift yang dilakukan oleh tenaga medis maupun non-medis yang tidak memiliki kompetensi yang sesuai.

“Hal ini yang akhirnya menimbulkan banyak kekecewaan di masyarakat karena hasilnya tidak sesuai dengan yang dijanjikan,” tambahnya.

Untuk meminimalkan risiko ketidakpuasan, ia menyarankan calon pasien untuk lebih selektif sebelum menjalani prosedur facelift.

Langkah pertama adalah memastikan kredibilitas dokter, termasuk kompetensi di bidang bedah plastik serta pengalaman dalam melakukan tindakan facelift.

Selain itu, penting juga untuk meninjau reputasi klinik, karena klinik yang kredibel umumnya memiliki standar prosedur yang jelas.
Pasien sangat dianjurkan untuk melihat dokumentasi hasil sebelum dan sesudah tindakan dari pasien sebelumnya guna mendapatkan gambaran mengenai kualitas dan gaya kerja dokter.

Diskusi terbuka mengenai ekspektasi penting dilakukan, sementara dokter berkewajiban memberikan penjelasan yang realistis sesuai kondisi medis pasien.

Di sisi lain, pasien perlu memahami bahwa setiap tindakan operasi memiliki risiko, termasuk kemungkinan hasil yang berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing individu.

“Calon pasien harus mencari tahu kredensial dokter dan klinik yang dituju. Jangan ragu untuk bertanya, mulai dari hasil yang diharapkan, proses penyembuhan, hingga seluruh aspek yang berkaitan dengan tindakan,” ujar dr. Adla.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa hasil akhir juga dipengaruhi oleh faktor dari pasien, seperti proses penyembuhan, riwayat kesehatan, serta kepatuhan dalam menjalani perawatan pascaoperasi.

“Kepuasan hasil dalam bedah plastik adalah kerja sama antara dokter dan pasien, bukan hanya dari satu pihak saja,” tutur dia.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved