Rabu, 6 Mei 2026

Virus Hanta Muncul, Perlukah Pembatasan Perjalanan seperti saat Pandemi Covid-19?

Virus Hanta (Hantavirus) sedang jadi perbincangan. Perlukah pembatasan perjalanan seperti saat pandemi covid-19?

Tayang:
cruisemapper
KAPAL MV HONDIUS. Tiga penumpang tewas di kapal pesiar Atlantik akibat dugaan hantavirus, WHO selidiki wabah langka di tengah laut. Tak heran jika muncul kekhawatiran. Apakah perlu dilakukan pengetatan perjalanan seperti saat pandemi COVID-19? 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Virus Hanta (Hantavirus) sedang jadi perbincangan.
  • Wabah ini menjadi mematikan muncul kasus di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026 sehingga menyebabkan 3 korban.
  • Apakah perlu dilakukan pengetatan perjalanan seperti saat pandemi COVID-19?

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Virus Hanta (Hantavirus) sedang jadi perbincangan hangat karena laporan wabah mematikan di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026.

Hingga 5 Mei 2026, dilaporkan 3 orang meninggal dunia. Walau demikian, secara global, WHO menilai risiko penyebaran ke masyarakat umum masih tergolong rendah.

Baca juga: Kronologi Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Berdasarkan Laporan WHO

Laporan ini menimbulkan kekhawatiran publik terhadap virus Hanta.

Apakah perlu dilakukan pengetatan perjalanan seperti saat pandemi COVID-19?

Terkait hal ini, Epidemiolog Dicky Budiman memberikan jawaban. 

Menurutnya, hingga saat ini belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menerapkan pembatasan mobilitas, baik domestik maupun internasional.

“Yang artinya, secara umum sebetulnya, dan saya sepakat dengan WHO ya, bahwa tidak ada indikasi risiko penularan secara luas dan juga tidak perlu ada pembatasan perjalanan,"ungkapnya saat dihubungi Tribunnews, Selasa (5/5/2026). 


Tidak Memenuhi Syarat Wabah Global

ilustrasi hantavirus
ilustrasi hantavirus (Learn Worthy)

Dicky menjelaskan, virus Hanta tidak memiliki karakteristik yang memungkinkan penyebaran cepat antar manusia.

Berbeda dengan COVID-19 di awal kemunculannya, virus ini tidak menunjukkan tanda-tanda transmisi luas.

“Hantavirus Pulmonary Syndrome itu bukan penyakit dengan transmisi antar manusia yang efisien. Jadi susah penularannya,"sambungnya. 

Ia menegaskan bahwa ada tiga indikator utama sebuah penyakit bisa memicu pembatasan perjalanan:

  • 1. Penularan antar manusia yang berkelanjutan
  • 2. Tingkat penularan tinggi
  • 3. Penyebaran cepat lintas negara


Ketiganya, menurut Dicky, tidak ditemukan pada kasus virus Hanta saat ini.

Risiko Ekonomi Lebih Besar

Pengetatan perjalanan tanpa dasar kuat justru berpotensi menimbulkan dampak negatif.

Bukan hanya pada sektor transportasi, tetapi juga ekonomi secara luas.

“Artinya pembatasan perjalanan tidak proporsional. Dan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang merugikan tanpa manfaat kesehatan signifikan,"lanjutnya. 

Hal ini menjadi pembeda utama dengan kebijakan saat pandemi, di mana pembatasan dilakukan karena ada manfaat kesehatan yang jelas.

Kapan Harus Waspada Lebih?

Dicky mengingatkan bahwa pembatasan baru relevan jika ada perubahan signifikan pada virus.

Misalnya:

  • Terbukti ada penularan antar manusia
  • Muncul klaster baru di luar lokasi awal


Namun hingga kini, indikasi tersebut belum ditemukan.


Fatal tapi Tidak Mudah Menyebar

Meski tidak mudah menular, virus Hanta tetap berbahaya secara klinis.

Tingkat fatalitasnya bahkan bisa mencapai 40 persen.

Namun karakter penyebarannya yang terbatas membuat risiko global tetap rendah.

Kesimpulannya, masyarakat tidak perlu panik atau membayangkan skenario lockdown.

Yang dibutuhkan adalah pemahaman risiko yang tepat, bukan reaksi berlebihan.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved