Waspada Napas Anak Lebih Cepat dan Batuk Berulang, Dokter Ungkap Itu Tanda Kelainan Jantung Bawaan
Tanda penyakit jantung bawaan yang kerap terlambat disadari. Anak mudah lelah, sering berhenti saat menyusu, atau napasnya cepat bsia jadi gejala.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Tanda penyakit jantung bawaan yang kerap terlambat disadari.
- Anak yang mudah lelah, sering berhenti saat menyusu, atau napasnya cepat hal yang perlu diwaspadai.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orangtua mengira anak yang mudah lelah, sering berhenti saat menyusu, atau napasnya cepat hanyalah kondisi biasa.
Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda penyakit jantung bawaan yang kerap terlambat disadari.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Yovi Kurniawati, Sp.JP, Subsp.K.Ped.P.J.B(K), mengungkapkan bahwa penyakit jantung bawaan merupakan kelainan bawaan yang paling sering terjadi pada bayi.
“Kalau kita lihat dengan estimasi kelahiran bayi lahir kita ini sekitar 5 juta kelahiran, maka per tahun itu ada 43 ribu bayi yang lahir dengan penyakit jantung bawaan,” ungkap dr. Yovi pada media briefing yang diselenggarakan di Senayan Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Sayangnya, tidak semua kasus bisa terdeteksi sejak awal. Bahkan, sebagian bayi mengalami kondisi berat sebelum akhirnya diketahui memiliki kelainan jantung.
“Ada juga yang banyak yang meninggal usia bulanan baru lahir. Kadang-kadang orangtuanya gak tahu penyebabnya apa. Tiba-tiba pasiennya sesak, atau tiba-tiba pasiennya biru,” lanjutnya.
Anak Cepat Capek Bisa Jadi Bukan Sekadar Lelah
Menurut dr. Yovi, salah satu tanda yang paling sering diabaikan adalah anak yang cepat lelah saat beraktivitas.
Pada bayi, gejalanya bisa terlihat saat menyusu. Bayi tampak sebentar-sebentar berhenti, berkeringat, atau napasnya cepat.
“Jadi menyusui itu merupakan suatu effort bagi mereka. Dia sebentar-sebentar berhenti, terus kalau dilihat berat badannya gak mau naik,” jelasnya.
Kondisi ini sering membuat bayi mengalami gagal tumbuh karena asupan nutrisi tidak optimal.
Saat anak bertambah besar, gejalanya bisa terlihat dalam aktivitas sehari-hari.
“Misalnya kakak adiknya kok kelihatannya anak ini aktivitasnya menjadi lebih sedikit karena dia cepat capek,” kata dr. Yovi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-batuk-anak-batuk.jpg)