Jumat, 8 Mei 2026

Layanan Ramah hingga Second Opinion Jadi Alasan WNI Memilih Berobat ke Malaysia

Dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia dinilai semakin diminati masyarakat Indonesia yang mencari layanan kesehatan lanjutan maupun second opinion.

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
HO/IST
PENGOBATAN DI MALAYSIA - Pengunjung Malaysia Healthcare Expo (MHX) 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026) mendapat informasi mengenai  pengobatan RS yang ada di Malaysia. Dalam beberapa tahun terakhir, negeri jiran itu makin diminati masyarakat Indonesia yang mencari layanan kesehatan lanjutan maupun second opinion 

Fenomena masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri masih menjadi perhatian serius pemerintah hingga 2026.

Berdasarkan berbagai data dan perkembangan terkini, jumlah warga Indonesia yang menjalani pengobatan di luar negeri, khususnya ke Malaysia dan Singapura, diperkirakan mencapai 1 hingga 2 juta orang per tahun.

Tingginya angka tersebut turut berdampak pada potensi devisa negara yang keluar. Nilainya diperkirakan mencapai lebih dari Rp160 triliun hingga Rp180 triliun setiap tahun.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI menjadikan kondisi ini sebagai bahan evaluasi besar terhadap sistem layanan kesehatan nasional.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menegaskan bahwa tren masyarakat berobat ke luar negeri tidak bisa hanya disikapi dengan larangan, melainkan harus dijawab dengan perbaikan kualitas layanan di dalam negeri.

"Salah satu perhatian utama pemerintah adalah masih terbatasnya akses terhadap teknologi kesehatan mutakhir, termasuk alat medis dan obat inovatif," katanya.

Selain itu, kata Budi, standar pelayanan rumah sakit di Indonesia juga terus didorong agar mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN.

Pemerintah kini mempercepat pembangunan sejumlah fasilitas kesehatan bertaraf internasional, di antaranya Rumah Sakit Kemenkes Surabaya dan kawasan KEK Kesehatan Sanur di Bali.

Baca juga: Kemenhaj Pastikan Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia di Madinah 2026 Siaga 24 Jam

"Langkah tersebut diharapkan dapat menghadirkan layanan kesehatan modern sekaligus menahan laju pasien Indonesia yang mencari pengobatan di luar negeri," katanya.

Di sisi lain, pengamat kesehatan menilai keputusan masyarakat berobat ke luar negeri tidak semata dipengaruhi teknologi medis.

Faktor kepercayaan terhadap kualitas diagnosis dan penanganan penyakit berat juga menjadi alasan utama.

Selain itu, aspek pelayanan dinilai turut memengaruhi kenyamanan pasien. Rumah sakit di negara tetangga dianggap lebih komunikatif, ramah, dan memiliki birokrasi yang lebih sederhana sehingga pasien merasa lebih nyaman selama menjalani pengobatan.

Kecepatan layanan juga menjadi sorotan. Untuk beberapa kasus penyakit serius seperti kanker, antrean tindakan medis di Indonesia dinilai masih relatif panjang dibandingkan rumah sakit di luar negeri.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved