Mikroplastik Ditemukan di Otak Manusia, Ilmuwan Ungkap Cara Mengurangi Paparan
Studi terbaru menemukan mikroplastik menumpuk di berbagai organ manusia, termasuk otak, dan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun.
Ringkasan Berita:
- Studi terbaru menemukan mikroplastik menumpuk di berbagai organ manusia, termasuk otak, dan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun.
- Meski dampak kesehatannya belum dipastikan, mikroplastik diduga terkait inflamasi, gangguan pencernaan, hingga peningkatan risiko penyakit tertentu.
- Ahli menyarankan mengurangi penggunaan plastik, menghindari microwave wadah plastik, dan memakai air filtrasi untuk menekan paparan.
TRIBUNNEWS.COM - Mikroplastik adalah partikel plastik sangat kecil dengan ukuran berkisar dari 5 milimeter hingga 1 nanometer.
Partikel ini bisa sengaja ditambahkan ke produk seperti kosmetik dan produk biomedis, atau terbentuk dari pecahan plastik yang lebih besar seperti bungkus makanan dan wadah plastik. Kini, mikroplastik telah ditemukan hampir di setiap ekosistem, mulai dari dasar laut hingga tundra Antartika.
Mengutip EatingWell, pada 2024, ilmuwan di New Mexico meneliti 52 sampel otopsi otak manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada bagian tubuh yang benar-benar kebal.
Mikroplastik tidak hanya menumpuk di otak, tetapi juga mampu melewati sawar darah-otak (blood-brain barrier). Konsentrasi pada sampel tahun 2024 juga lebih tinggi dibandingkan 2016.
Partikel kecil ini merupakan sisa dari masifnya produksi plastik global. Hingga kini, belum jelas apa arti penumpukan mikroplastik dalam tubuh terhadap kesehatan manusia. Namun para ahli mengatakan ada beberapa cara untuk mengurangi paparan, terutama dari makanan.
Dari mana mikroplastik berasal?
Plastik ada di mana-mana. Penggunaannya begitu umum hingga hampir mustahil dihindari. Menurut pejabat FDA dari Human Foods Program, sebagian besar limbah plastik menumpuk di tempat pembuangan akhir dan lingkungan.
"Sebagian besar plastik tidak terurai secara hayati, melainkan terpecah akibat cuaca dan lingkungan seiring waktu menjadi mikroplastik," jelas mereka.
Dari tempat pembuangan, mikroplastik bisa masuk ke air tanah, terbawa angin dan hujan ke sumber air lain maupun lahan pertanian. Lumpur limbah (sewage sludge) yang sering digunakan sebagai pupuk juga mengandung konsentrasi mikroplastik tinggi.
Makanan yang kita konsumsi juga dapat mengandung mikroplastik.
Baca juga: Si Kecil Sering Gigit Mainan? Waspada Mikroplastik Bisa Masuk Usus hingga Picu Diare dan Malnutrisi
"Sumbernya ada dua: dari lingkungan—jika air atau tanah terkontaminasi, maka makanan ikut tercemar—atau dari wadah dan kemasan plastik," kata Lili He, ahli kimia analitik dari University of Massachusetts Amherst.
Sebuah studi menemukan hampir 90 persen sampel dari 16 jenis protein mengandung mikroplastik, dengan jumlah jauh lebih tinggi pada protein olahan tinggi.
Rata-rata partikel mikroplastik tertinggi ditemukan pada makanan laut, disusul protein nabati seperti nugget nabati dan tahu, lalu daging seperti ayam dan sapi.
Dada ayam memiliki tingkat kontaminasi terendah, rata-rata dua partikel per porsi, sementara udang tepung mencapai 370 partikel per porsi.
Memanaskan makanan dalam microwave juga dapat meningkatkan paparan mikroplastik. Sebuah studi terhadap enam wadah plastik umum menemukan bahwa wadah polypropylene (seperti wadah deli atau makanan takeout) melepaskan mikroplastik paling banyak ke makanan. Pemanasan microwave meningkatkan transfer mikroplastik hingga tiga kali lipat.
Apakah mikroplastik berbahaya?
Mikroplastik tampaknya sama umum ditemukan dalam tubuh manusia seperti di lingkungan. Studi telah mendeteksinya dalam urin, feses, darah, ASI, dan organ tubuh manusia.
Namun, apakah penumpukan ini berbahaya?
"Sayangnya, kami belum bisa memberikan jawaban pasti," kata sumber FDA.
Belum ada cukup bukti yang secara langsung menghubungkan mikroplastik dengan penyakit tertentu. Namun, data awal menunjukkan partikel ini kemungkinan tidak bermanfaat bagi tubuh.
Beberapa potensi dampaknya antara lain:
1. Peradangan
Studi menunjukkan mikroplastik dapat memicu inflamasi pada sel. Inflamasi sendiri terkait dengan berbagai penyakit seperti diabetes, kanker, penyakit kardiovaskular, gangguan neurodegeneratif, dan penyakit paru kronis.
2. Gangguan pencernaan
Mikroplastik di usus dapat mengganggu proses pencernaan dan menyebabkan disbiosis, yaitu ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat di usus.
3. Paparan logam berat
Riset menunjukkan mikroplastik dapat bertindak seperti magnet bagi logam berat seperti arsenik, lalu membawanya masuk ke rantai makanan dan tubuh manusia. Hal yang sama juga bisa terjadi pada PFAS (forever chemicals) dan bakteri patogen.
4. Risiko kanker
Beberapa peneliti menduga mikroplastik dapat berkontribusi pada kenaikan kasus kanker, khususnya kanker usus besar pada usia muda.
5. Demensia
Peneliti juga menemukan akumulasi mikroplastik lebih tinggi pada sampel otak yang berasal dari pasien dengan diagnosis demensia.
Cara mengurangi paparan mikroplastik
Paparan mikroplastik memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi bisa dikurangi.
Beberapa langkah yang direkomendasikan ahli:
- Gunakan blender dan food processor berbahan kaca
Studi menemukan blender plastik bisa melepaskan miliaran partikel mikroplastik ke jus hanya dalam 30 detik. - Hindari botol air plastik
Satu liter air kemasan dapat mengandung sekitar 100.000 partikel mikroplastik. - Waspadai kantong teh
Kantong teh berbahan nilon saat terkena air panas dapat melepaskan tujuh kali lebih banyak mikroplastik dibanding gelas plastik sekali pakai. - Gunakan talenan non-plastik
Pilih talenan kayu atau logam dibanding plastik. - Jangan microwave wadah plastik
Pindahkan makanan ke wadah kaca atau keramik sebelum dipanaskan. - Gunakan air yang difilter
Sistem mikrofiltrasi dapat menghilangkan 78 persen hingga 100 persen mikroplastik dari air minum. - Gunakan tas belanja kain
Termasuk tas khusus buah dan sayur. - Bagi pecinta seafood, ahli juga menyarankan memperhatikan bagian hewan yang dikonsumsi. Kerang dan remis bisa mengandung lebih banyak mikroplastik karena seluruh tubuh, termasuk sistem pencernaannya, ikut dimakan.
Kesimpulan ahli
Mikroplastik ada di mana-mana, dan kini jelas partikel tersebut telah terakumulasi dalam tubuh manusia.
Meski dampak kesehatan jangka panjangnya belum dapat dipastikan, ada langkah sederhana untuk mengurangi paparan: ganti alat plastik dengan kaca atau stainless steel, hindari air kemasan, dan jangan memanaskan plastik dalam microwave.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.