Rabu, 13 Mei 2026

Wabah Hantavirus

Kemenkes: Hantavirus di Indonesia Sudah Ada Sejak 1991, Tapi Bukan Tipe Andes

Kemenkes menegaskan hantavirus di Indonesia sudah ditemukan sejak 1991. Namun jenis yang beredar di Tanah Air berbeda dengan Andes Virus .

Tayang:
Tribunnews.com/Rina Ayu
HANTAVIRUS - Hantavirus ditularkan oleh hewan pengerat ini menyebabkan gejala seperti flu yang akhirnya menyebabkan paru-paru terisi cairan. Kasus hantavirus biasanya berasal dari paparan langsung terhadap kotoran hewan pengerat yang terinfeksi. Kemenkes menegaskan hantavirus di Indonesia sudah ditemukan sejak 1991. Namun jenis yang beredar di Tanah Air berbeda dengan Andes Virus yang baru-baru ini ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius. Jenis hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus. 
Ringkasan Berita:
  • Kemenkes menegaskan hantavirus di Indonesia sudah ditemukan sejak 1991.
  • Namun jenis yang beredar di Tanah Air berbeda dengan Andes Virus yang baru-baru ini ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius.
  • Jenis hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus.

 

 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan, hantavirus di Indonesia sudah ditemukan sejak 1991, namun jenis yang beredar di Tanah Air berbeda dengan Andes Virus yang baru-baru ini ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius.


Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan, hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus.

Baca juga: Jalur Perjalanan WNA Sebelum Kontak Erat dengan Korban Hantavirus, Dari Argentina hingga ke Jakarta

“Kasus hantavirus di Indonesia sudah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus,” kata Andi dalam temu media secara daring, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, Andes Virus yang ditemukan pada kasus di kapal pesiar MV Hondius merupakan jenis berbeda yang banyak tersebar di wilayah Amerika Selatan dan hingga kini belum pernah dilaporkan ditemukan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus.

“Distribusi virus ini tersebar di Amerika dan hingga saat ini belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus,” ujarnya.

KEWASPADAAN - Kasus virus hanta yang dilaporkan di kapal pesiar internasional dan sejumlah negara menjadi perhatian, termasuk di Indonesia.

 Data kasus Kemenkes RI 2024-2026 ada 23 kasus positif
, 3 Kematian
, tersebar di 9 provinsi
, 2 kasus suspek terbaru
 (DKI Jakarta dan DI Yogyakarta). TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA
KEWASPADAAN - Kasus virus hanta yang dilaporkan di kapal pesiar internasional dan sejumlah negara menjadi perhatian, termasuk di Indonesia. Data kasus Kemenkes RI 2024-2026 ada 23 kasus positif , 3 Kematian , tersebar di 9 provinsi , 2 kasus suspek terbaru (DKI Jakarta dan DI Yogyakarta). TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA (TRIBUNNEWS/Akbar Permana)

Andes Virus dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi pernapasan akut berat yang berpotensi fatal. 

Gejalanya penyakit meliputi demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas.

Masa inkubasi penyakit berkisar antara satu hingga delapan minggu, sementara untuk Andes Virus dapat mencapai 42 hari dengan tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) penyakit ini dilaporkan mencapai sekitar 60 persen.

Meski demikian, Kemenkes menyebut risiko penularan antar manusia sangat rendah. 

Penularan antar manusia pada hantavirus sejauh ini hanya dilaporkan terbatas pada tipe HPS akibat Andes Virus di Amerika Selatan, terutama melalui kontak intens dan berkepanjangan.

“Hingga saat ini, penularan antar manusia sangat jarang terjadi,” kata Andi.

Sementara itu, hantavirus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) umumnya ditemukan di Indonesia.

Jenis virus ini sering dibawa oleh tikus got dan mencit ladang yang hidup di wilayah perkotaan maupun area pertanian.

Gejala HFRS meliputi demam, sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga ikterik atau kondisi tubuh menguning. 

Masa inkubasi penyakit berkisar satu hingga dua minggu dengan CFR sekitar 5 hingga 15 persen.

Kemenkes mengimbau, masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan hantavirus yang berkaitan dengan lingkungan dan hewan pengerat seperti tikus serta celurut.

Masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menjaga etika batuk, serta menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja.

Selain itu, masyarakat harus menghindari kontak langsung dengan tikus, celurut, maupun kotorannya, menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup, menutup lubang di dalam maupun luar rumah agar tikus tidak masuk, membersihkan area yang terdapat jejak tikus dengan metode wet cleaning serta menghindari sumber infeksi saat bepergian.

“Jika mengalami gejala penyakit virus hanta, segera periksakan diri ke Fasyankes dan patuhi himbauan kesehatan di negara tujuan saat melakukan perjalanan,” ungkap dia.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved