Waspada Monkey Malaria, Deforestasi Hutan Buat Nyamuk Pembawa Penyakit Makin Dekat
Satu penyakit yang ditimbulkan pembukaan hutan di antaranya malaria knowlesi atau yang dikenal masyarakat sebagai “monkey malaria”.
Ringkasan Berita:
- Malaria knowlesi merupakan malaria zoonotik, yakni penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia
- Parasit penyebab malaria knowlesi bernama plasmodium knowlesi dan biasanya hidup pada monyet ekor panjang serta monyet beruk
- Perubahan hutan membuat manusia, monyet, dan nyamuk kini hidup di ruang yang semakin berdekatan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pembukaan hutan menjadi kebun sawit, tambang, hingga permukiman bukan hanya mengubah lanskap alam tetapi bisa berdampak terhadap munculnya ancaman penyakit.
Satu penyakit yang ditimbulkan pembukaan hutan di antaranya malaria knowlesi atau yang dikenal masyarakat sebagai “monkey malaria”.
Dokter spesialis anak konsultan infeksi penyakit tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) , Dr Inke Nadia Diniyanti Lubis mengatakan malaria knowlesi sebenarnya bukan penyakit baru di dunia medis.
Namun, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum memahami ancaman penyakit Monkey Malaria.
“Saya tahu di Indonesia ini masih banyak sekali masyarakat yang belum cukup paham,” ujarnya pada media briefing virtual, Kamis (14/5/2026).
Ia mengingatkan istilah “monkey malaria” sebaiknya tidak digunakan sembarangan agar tidak memicu stigma terhadap monyet.
Baca juga: Peringatan Hari Malaria Sedunia, Dokter Pastikan Penyebaran Malaria Bisa Dicegah
“Kalimatnya harus kita hindarkan karena tidak ingin menimbulkan stigma terkait monyet ataupun kera yang ada di sekitar kita,” katanya.
Menurut Dr Inke, malaria knowlesi merupakan malaria zoonotik, yakni penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia.
Parasit penyebabnya bernama plasmodium knowlesi dan biasanya hidup pada monyet ekor panjang serta monyet beruk.
Namun, penularannya tidak terjadi langsung dari monyet ke manusia.
Baca juga: KLB Malaria di Kabupaten Parimo Sulteng, Epidemiolog Ingatkan Eliminasi Tak Berarti Bebas Selamanya
“Infeksi ini ternyata bisa menular dari monyet ke manusia melalui gigitan nyamuk,” ucapnya.
Hal menarik, Dr Inke menyoroti bagaimana perubahan hutan membuat manusia, monyet, dan nyamuk kini hidup di ruang yang semakin berdekatan.
“Dengan terjadinya deforestasi dan juga alih fungsi lahan, maka habitat daripada hewan-hewan liar, termasuk monyet ini, menjadi hilang,” ujarnya.
Hutan yang dulu menjadi habitat satwa berubah menjadi kebun, lahan pertanian, hingga desa.
“Karena terjadi alih fungsi lahan, manusia masuk ke dalam habitat yang baru, sehingga berbagi ruang yang sama dengan monyet,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/fogging-cegah-dbd_20220205_153401.jpg)