9 Gejala Seseorang Menderita Penyakit Monkey Malaria, Waspada Karena Sering Dikira Flu Biasa
Dr Inke Nadia Diniyanti Lubis Lubis mengungkap gejala seseorang menderita penyakit malaria knowlesi atau monkey malaria.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dokter spesialis anak konsultan infeksi penyakit tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) , Dr Inke Nadia Diniyanti Lubis Lubis mengungkap gejala seseorang menderita penyakit malaria knowlesi atau monkey malaria.
Penyakit ini memiliki gejala seperti flu biasa di antaranya demam naik turun, menggigil, dan badan pegal.
Menurut Dr Inke penyakit malaria knowlesi sering sulit dikenali karena gejalanya mirip penyakit umum sehari-hari.
“Gejalanya tidak bisa dibedakan dengan jenis malaria yang lain,” ujar dokter Inke pada media briefing virtual, Kamis (14/5/2026).
Monkey malaria adalah infeksi parasit yang disebabkan plasmodium knowlesi.
Parasit ini merupakan jenis malaria zoonosis, artinya ditularkan secara alami dari hewan ke manusia.
Baca juga: Peringatan Hari Malaria Sedunia, Dokter Pastikan Penyebaran Malaria Bisa Dicegah
Infeksi ini menjadi perhatian serius di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia (seperti di Aceh Jaya) dan Malaysia, karena tingkat penularannya yang sangat cepat.
Gejala Menderita Penyakit Monkey Malaria
Dr Inke pun membeberkan gejala seseorang menderita penyakit monkey malaria.
Gejalanya yang mirip flu atau infeksi biasa menyebabkan banyak pasien datang terlambat ke fasilitas kesehatan.
Baca juga: Wamendagri Ribka Dorong Percepatan Regulasi Eliminasi Malaria di 6 Provinsi Papua
Berikut gejala menderita penyakit monkey malaria:
1. Demam naik turun
Tanda khas malaria knowlesi adalah pola demam yang muncul setiap hari.
“Biasanya demamnya itu siklus harian. Jadi, setiap 24 jam dia naik, lalu paginya turun, malam meningkat lagi,” kata dokter Inke.
2. Menggigil
3. Berkeringat
4. Sakit kepala
5. Nyeri otot dan sendi
6. Lemas
7. Mual muntah
8. Batuk
9. Nyeri perut
Berkembang Cepat di Tubuh
Hal paling mengkhawatirkan dari malaria knowlesi adalah kecepatannya berkembang di tubuh manusia.
“Siklus hidupnya itu sangat cepat, maka dia dengan cepat dapat menambah jumlah parasit di dalam tubuh,” kata Dr Inke.
Akibatnya, pasien bisa tiba-tiba mengalami kondisi berat.
“Trombosit turun dengan cepat, bisa menjadi sesak nafas, bisa gagal ginjal, bisa menjadi kuning, sampai terjadi kesadaran menurun ataupun shock,” ujarnya.
Dr Inke mengatakan tubuh manusia juga belum benar-benar mengenali parasit ini.
“Tubuh kita tidak mengenal patogen tersebut atau kuman tersebut sama sekali,” katanya.
Ia membandingkan kondisi ini dengan awal pandemi Covid-19.
“Kalau kita melihat, seperti pada zaman COVID, kita juga tidak mengenal patogen yang baru, maka ada kecenderungan untuk terjadi berat penyakit yang jauh lebih berat dan lebih cepat,” jelasnya.
Masalah besar lain adalah malaria knowlesi sering tidak terdeteksi saat pemeriksaan biasa.
“Ketika kita melihat dari mikroskop, biasanya susah dibedakan antara jenis malaria yang menginfeksi manusia dengan malaria yang disebabkan oleh monyet,” ujar Dr Inke.
Rapid test yang umum dipakai juga sering gagal mendeteksi kasus.
“Rapid test ini sangat spesifik untuk malaria yang ditularkan oleh manusia dan mempunyai sensitivitas yang sangat rendah untuk nolesi,” katanya.
Akibatnya pasien bisa dianggap tidak terkena malaria, padahal infeksinya berkembang cepat di dalam tubuh.
Dr Inke mengingatkan masyarakat agar tidak asal mengobati sendiri saat mengalami gejala demam berulang.
“Infeksi malaria tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik, harus dengan anti-malaria,” tegasnya.
Kabar baiknya, malaria knowlesi masih bisa disembuhkan bila ditangani cepat.
“Lebih baik ketika terjadi diagnosis, maka pemberian obat itu diberikan dalam 48 jam,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/fogging-di-pemukiman-warga-kelurahan-antapani-kidul_20220112_142945.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.