Rabu, 20 Mei 2026

PPTI Optimis Target Eliminasi TBC 2030 Tercapai, Yani Panigoro: Syaratnya Semua Pihak Harus Nurut

Pemerintah Indonesia memasang target ambisius untuk mengeliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030 mendatang.

Tayang:
Freepik
Ilustrasi TBC. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah Indonesia memasang target ambisius untuk mengeliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030 mendatang.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Ir. Yani Yuhani Panigoro menyatakan optimisme yang dibarengi dengan catatan penting.

Baca juga: Waspadai Gejala Batuk Lebih dari 2 Minggu, Dokter Sebut Bahaya TBC Setara Covid-19

Yani berkaca pada keberhasilan Indonesia menangani pandemi COVID-19 dalam waktu singkat.

Menurutnya, TBC juga bisa dihilangkan asalkan ada kerja sama multisektor yang solid.

Hal ini disampaikan Yani saat sesi wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

"COVID kok bisa selesai? Karena semua pihak ikut, semua nurut. TBC juga bisa kalau penderita, pemerintah, dan masyarakat paham bahayanya. Tantangannya adalah membuat semua orang mengerti bahwa TBC bisa sembuh asal konsisten," kata Yani.

PENYAKIT TUBERKULOSIS - Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro, MM, saat podcast di Studio Tribunnews, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Dia mengungkap perjuangan para kader TBC yang rela bergerak dari rumah ke rumah demi memastikan pasien minum obat selama 6 bulan tanpa putus. TRIBUNNEWS/LUTFI AKHMAL
PENYAKIT TUBERKULOSIS - Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro, MM, saat podcast di Studio Tribunnews, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Dia mengungkap perjuangan para kader TBC yang rela bergerak dari rumah ke rumah demi memastikan pasien minum obat selama 6 bulan tanpa putus. TRIBUNNEWS/LUTFI AKHMAL (Tribunnews.com)

Untuk mencapai target tersebut, Yani membawa PPTI melakukan transformasi di era digital.

Sosialisasi tidak lagi hanya dilakukan secara konvensional, tetapi juga merambah ke media sosial.

"Tahun 2026 ini tentu beda dengan tahun 1968 saat organisasi ini berdiri. Kita harus pakai cara lain. Kita galakkan Instagram, pakai influencer, webinar, hingga lomba-lomba kreatif agar kaum muda juga sadar bahaya TBC," jelasnya.

Yani juga membeberkan strategi kemandirian organisasi agar program-program pemberantasan TBC terus berjalan.

PPTI memiliki unit bisnis berupa klinik JRC (Jakarta Respiratory Center) di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, yang hasilnya diputar kembali untuk donasi program TBC.

Baca juga: Kisah Yani Panigoro Jadi Ketua Umum PPTI: Bukan Dokter, Tapi Terpanggil Urus Penyakit TBC

"Kami juga menerima CSR dari beberapa BUMN dan perusahaan swasta. Pihak swasta harus banyak tergerak membantu karena ini masalah nasional," ucap Yani.

Terkait jangkauan ke daerah terpencil atau wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), Yani mengakui masih ada tantangan dalam mencari pengurus di daerah seperti Papua.

"Mencari pengurus itu tidak mudah. Yang mau jadi Ketua PPTI itu susah. Kami membuka diri jika ada pengurus daerah yang siap berkolaborasi. Kuncinya jangan pernah lelah, karena kalau lelah, kita akan berhenti dan TBC akan terus ada," tandasnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved