Yani Panigoro Ingatkan Bahaya TBC di Kawasan Padat Penduduk
Tingginya angka penyakit TBC di Indonesia dinilai memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Ringkasan Berita:
- Tingginya angka penyakit TBC di Indonesia dinilai memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.
- Kondisi kesehatan masyarakat yang tinggal di perumahan layak dengan warga yang bermukim di kawasan padat penduduk akan berbeda.
- Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak permukiman yang kumuh dan lembap, sehingga menjadi sarang perkembangbiakan bakteri.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tingginya angka penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia dinilai memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro saat sesi wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Baca juga: VIDEO EKSKLUSIF Yani Panigoro: Kader Penyembuh TBC Bergerak Pakai Hati Meski Ekonomi Pas-pasan
Yani membandingkan kondisi kesehatan masyarakat yang tinggal di perumahan layak dengan warga yang bermukim di kawasan padat penduduk.
"Penderita TBC di kota kalau hidup sehat, makan cukup, gizi lengkap, dan rumah ada jendelanya, biasanya aman. Tapi coba lihat di daerah yang rumahnya mepet-mepet, tidak ada jendela, tidak ada ventilasi. Satu rumah bisa diisi 10 orang," ujar Yani.
Ia menegaskan, bakteri TBC sangat rentan mati jika terkena sinar matahari langsung.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak permukiman yang kumuh dan lembap, sehingga menjadi sarang perkembangbiakan bakteri.
"Sinar matahari itu luar biasa pengaruhnya. Kalau kena matahari, bakteri itu mati. Tapi kalau rumah gelap dan lembap, ditambah gizi penderita yang tidak tercukupi, penyakit ini akan terus berputar di sana," jelasnya.
Selain faktor lingkungan, Yani menyoroti karakter TBC yang disebutnya sebagai penyakit ‘silent’ atau sunyi.
Berbeda dengan COVID-19 yang memicu kepanikan massal, TBC sering kali dianggap sebagai batuk biasa.
"TBC tidak gegap gempita seperti COVID, kanker, atau penyakit jantung. Orang merasa 'alah sudah pakai jahe saja selesai'. Padahal ini penyakit menular yang mematikan jika tidak ditangani secara medis," tegas Yani.
Melalui organisasi PPTI, Yani berupaya memberikan bantuan yang tidak hanya fokus pada obat-obatan, tetapi juga bantuan sosial bagi penderita yang kurang mampu.
"Kami sering memberikan sweetener berupa sembako saat pemeriksaan rontgen agar masyarakat mau datang dan diperiksa," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/DKI-Jakarta-Provinsi-Terpadat-Penduduk-di-Indonesia_20260409_202733.jpg)