Rabu, 20 Mei 2026

Wawancara Eksklusif

VIDEO EKSKLUSIF Yani Panigoro: Kader Penyembuh TBC Bergerak Pakai Hati Meski Ekonomi Pas-pasan

“Betapa kader itu mulia hatinya. Walaupun secara ekonomi mungkin mereka kurang, tapi mau bergerak pakai hati”

Tayang: | Diperbarui:

Ringkasan Berita:
  •  Ir. Yani Yuhani Panigoro kini memegang tongkat estafet kepemimpinan di Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI).
  • PPTI mengandalkan strategi TOSS (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) untuk menekan angka penderita TBC di Indonesia.
  • Yani Panigoro optimistis target eliminasi TBC 2030 bisa tercapai jika pemerintah, masyarakat, dan penderita bergerak bersama seperti saat menghadapi pandemi Covid-19.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia.

Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia menjadi negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Jumlahnya diperkirakan mencapai 1,09 juta kasus dengan sekitar 125 ribu kematian setiap tahun.

Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Yani Yuhani Panigoro, mengatakan perjuangan melawan TBC tidak lepas dari peran para kader relawan yang mendampingi pasien setiap hari.

Yani Panigoro menceritakan perjuangan para kader PPTI dalam mendukung pemberantasan TBC di Indonesia beserta tantangannya. 

Menurut dia, para kader rela datang dari rumah ke rumah untuk memastikan pasien minum obat rutin selama enam bulan tanpa putus.

“Betapa kader itu mulia hatinya. Walaupun secara ekonomi mungkin mereka kurang, tapi mau bergerak pakai hati,” ujar Yani Panigoro, saat sesi wawancara eksklusif bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, di Studio Tribunnews, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

PENYAKIT TUBERKULOSIS - Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro, MM (kiri) saat podcast bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra (kanan) di Studio Tribunnews, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Dia mengungkap perjuangan para kader TBC yang rela bergerak dari rumah ke rumah demi memastikan pasien minum obat selama 6 bulan tanpa putus. TRIBUNNEWS/LUTFI AKHMAL
PENYAKIT TUBERKULOSIS - Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro, MM (kiri) saat podcast bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra (kanan) di Studio Tribunnews, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Dia mengungkap perjuangan para kader TBC yang rela bergerak dari rumah ke rumah demi memastikan pasien minum obat selama 6 bulan tanpa putus. TRIBUNNEWS/LUTFI AKHMAL (TRIBUNNEWS/LUTFI AKHMAL)

Ia menjelaskan, pengobatan TBC tidak mudah karena pasien harus disiplin minum obat setiap hari.

Jika berhenti di tengah jalan, penyakit bisa semakin parah dan menular ke orang lain.

Karena itu, kader memiliki tugas penting untuk terus mengingatkan pasien agar tetap menjalani pengobatan sampai sembuh.

Yani juga menyoroti kondisi banyak penderita TBC yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Tidak sedikit pasien yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, padahal mereka harus tetap menjaga kondisi tubuh selama pengobatan.

“Penderita TB itu berat. Berat badan menurun, harus minum obat tiap hari, tapi makan juga kadang tidak lengkap,” katanya.

Menurut Yani, persoalan TBC bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat.

Baca juga: Kisah Yani Panigoro Jadi Ketua Umum PPTI: Bukan Dokter, Tapi Terpanggil Urus Penyakit TBC

Ia menyebut banyak kasus TBC ditemukan di lingkungan padat penduduk dengan ventilasi rumah yang kurang baik dan akses makanan bergizi yang terbatas.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved