Migrain Bukan Sekadar Pusing, Dokter Ungkap Pemicu hingga Cara Menanganinya
Migrain dianggap sebagai pusing biasa. Kondisi kepala yang biasanya terasa berdenyut dan sering muncul di satu sisi kepala adalah gambaran migrain
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang masih menganggap migrain sebagai pusing biasa.
Padahal, kondisi ini merupakan gangguan neurologis yang bisa berdampak besar terhadap kualitas hidup dan produktivitas seseorang jika tidak ditangani dengan tepat.
Pemahaman tersebut disampaikan dokter dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta, dr. Ivana Lola dalam seminar kesehatan bertajuk Kenali Migrain, Kendalikan Gejalanya untuk Hidup Lebih Berkualitas yang digelar di Bandung.
Baca juga: Cerita Prilly Latuconsina Tubuhnya Dikafani seperti Pocong, Bikin Deg-degan hingga Migrain
Menurut dr. Ivana, masyarakat kerap menyamakan pusing, migrain, dan vertigo, padahal ketiganya merupakan kondisi yang berbeda.
"Istilah pusing sebenarnya merupakan keluhan yang sangat umum dan bisa menggambarkan berbagai kondisi," ucap dr. Ivana dalam seminarnya, belum lama ini.
"Pusing adalah istilah umum ketika seseorang merasa tidak nyaman di kepala, melayang, ringan, atau tidak enak badan," jelasnya.
Sementara itu, migrain merupakan jenis sakit kepala yang biasanya terasa berdenyut dan sering muncul di satu sisi kepala.
Kondisi ini dapat disertai mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
Adapun vertigo ditandai sensasi seolah-olah diri sendiri atau lingkungan sekitar sedang berputar, meski sebenarnya tidak.
Gangguan ini umumnya berkaitan dengan masalah keseimbangan pada telinga bagian dalam atau saraf keseimbangan.
"Jadi, tidak semua pusing adalah migrain, dan tidak semua migrain adalah vertigo," tegas dr. Ivana.
Migrain sendiri termasuk salah satu jenis sakit kepala yang paling umum terjadi di dunia.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan gangguan sakit kepala memengaruhi sekitar 40 persen populasi global, sementara migrain menjadi salah satu penyebab utama disabilitas neurologis.
Di Indonesia, prevalensi migrain diperkirakan mencapai 11 hingga 12 persen populasi.
Kondisi ini juga lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki dan sering menyerang kelompok usia produktif 25 hingga 55 tahun.
Menjawab anggapan bahwa risiko migrain meningkat saat memasuki usia kepala empat, dr. Ivana mengatakan migrain memang masih sering dialami pada rentang usia tersebut.
Menurutnya, sejumlah faktor dapat membuat frekuensi migrain meningkat, mulai dari perubahan hormon menjelang perimenopause pada perempuan, stres pekerjaan dan keluarga, pola tidur yang tidak teratur, hingga penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan kecemasan.
Namun, ia mengingatkan agar tidak menganggap remeh sakit kepala berat yang baru muncul pertama kali setelah usia 40 tahun.
"Jika seseorang baru pertama kali mengalami sakit kepala berat setelah usia 40 tahun, sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk memastikan tidak ada penyebab lain yang lebih serius," katanya.
Selain faktor usia dan hormon, pola makan juga berperan penting terhadap munculnya migrain.
Pemicu Migrain, Kandungan MSG hingga Kafein dan Alkohol Berlebih
Dr. Ivana menjelaskan setiap penderita memiliki pemicu yang berbeda, namun beberapa jenis makanan kerap dikaitkan dengan serangan migrain.
Makanan olahan dengan kandungan MSG berlebih, daging olahan seperti sosis dan kornet, keju fermentasi, cokelat pada sebagian orang, minuman berkafein berlebihan, alkohol, hingga pemanis buatan tertentu termasuk yang perlu diwaspadai.
Sebaliknya, konsumsi sayur dan buah segar, ikan kaya omega-3 seperti salmon dan tuna, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta menjaga kecukupan cairan dapat membantu menurunkan risiko kekambuhan.
"Selain jenis makanan, pola makan yang teratur juga penting karena telat makan sering menjadi pemicu migrain," ujarnya.
Dr. Ivana menyarankan penderita segera beristirahat di ruangan yang tenang dan minim cahaya, mengurangi paparan suara keras maupun layar gawai, memperbanyak minum air putih, serta melakukan kompres dingin pada dahi atau belakang leher.
Pada kondisi tertentu, obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter juga dapat digunakan. Beristirahat atau tidur sejenak juga kerap membantu meredakan gejala.
"Semakin cepat migrain ditangani sejak gejala awal muncul, biasanya hasilnya akan lebih baik," katanya.
Soal kebiasaan memijat kepala saat migrain kambuh, dr. Ivana menyebut cara tersebut dapat membantu mengurangi ketegangan otot pada sebagian orang, tetapi bukan terapi utama.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis jika migrain semakin sering muncul, nyeri tidak membaik dengan pengobatan biasa.
Atau disertai gejala berbahaya seperti gangguan penglihatan berkepanjangan, bicara pelo, kelemahan anggota tubuh, wajah mencong, demam tinggi, kaku kuduk, hingga sakit kepala mendadak yang terasa paling hebat sepanjang hidup.
"Pesan pentingnya, migrain bukan sekadar sakit kepala biasa," ucapnya.
"Dengan mengenali pemicu, menjaga pola hidup sehat, dan mendapatkan penanganan yang tepat, frekuensi serta keparahan migrain dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga," terang dr. Ivana.
Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengatakan edukasi kesehatan menjadi salah satu fokus program sosial yang dijalankan pihaknya.
"Migrain seringkali dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari," kata Andrew.
"Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat sekaligus mendorong deteksi dini berbagai faktor risiko kesehatan melalui pemeriksaan gratis," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ivana-migrain.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.