Breaking News:

AUTP Bisa Bantu Petani Sulut Terhindar dari Kerugian

Di bulan April 2021, sektor pertanian di Sulawesi Utara diganggu oleh cuaca ekstrim yang disertai angin kencang.

Tribunnews/Jeprima
Petani memisahkan bulir padi dari jerami saat panen di kawasan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (24/3/2021). 

TRIBUNNEWS.COM - Di bulan April 2021, sektor pertanian di Sulawesi Utara diganggu oleh cuaca ekstrim yang disertai angin kencang. Akibatnya sejumlah tanaman gagal panen. Sebagian besar petani padi sawah menyatakan hasil panen pada kuartal pertama tahun ini mengalami penurunan yang sangat drastis.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, petani bisa terhindar jika memanfaatkan asuransi.

"Untuk membantu petani menghadapi situasi gagal panen, kita memiliki program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Lahan yang gagal panen akan diberi ganti rugi oleh pihak asuransi sehingga petani tidak akan rugi," katanya, Senin (26/4/2021).

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

"Asuransi pertanian adalah bagian dari mitigasi bencana. Asuransi akan meng-cover lahan pertanian dari perubahan iklim, cuaca ekstrim, bencana alam, juga serangan organisme pengganggu tanaman dan hama," katanya.

Sarwo Edhy menjelaskan, asuransi akan mengeluarkan klaim sebesar Rp 6 juta perhektare untuk lahan gagal panen yang telah diasuransikan.

"Klaim tersebut bisa dimanfaatkan petani sebagai modal untuk kembali menanam. Sehingga dipastikan petani tidak akan rugi meski gagal panen. Itu keuntungan utama dari asuransi," jelasnya.

Salah seorang petani di Minahasa-Sulawesi Utara, Frece Manoreh, mengakui hasil panen saat ini sangat menurun akibat banyak padi yang roboh karena angin kencang.

Hal yang sama diungkapkan petani asal Desa Tababo, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sastri Tora.

“Hampir sebagian rusak. Karena angin kencang, cukup banyak padi yang roboh. Untung sudah ada bijinya. Jadi bisa dipanen, walau tak sebaik biasanya,” papar petani wanita paruh baya ini.

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved